Skip to main content

Kortikostroid (Efek Terapi vs Efek Samping)

Kortikostroid (Efek Terapi vs Efek Samping)



Kortikosteroid sudah cukup familiar di kalangan masyarakat, bahkan sebagian besar sudah tahu khasiatnya.

Namun, tidak banyak yang mengetahui efek samping dari golongan kortikosteroid ini terutama pada penggunaan jangka panjang serta cara penggunaan obat golongan ini.

Struktur dasar obat golongan kortikosteroid menyerupai hormon steroid dalam tubuh sehingga pada penggunaan obat golongan ini akan berdampak pada regulasi hormon di dalam tubuh.

Kortikostroid (Efek Terapi vs Efek Samping)


Hormon adalah senyawa aktif biologik, dibentuk oleh suatu kelenjar di dalam organ tertentu.

Kelenjar ini disebut kelenjar endokrin karena hasil sekresinya tidak dibuang keluar tubuh melainkan masuk ke dalam aliran darah menuju sel-sel target.

Hipotalamus yang berhubungan erat dengan hipofisis membentuk sebagai pusat regulasi sekresi hormon-hormon termasuk steroid.

Hormon steroid (adrenokortikoid = molekul steroid yang diproduksi di dalam tubuh) diproduksi dan disekresi oleh korteks adrenal ke sirkulasi darah.

Sekresinya diatur oleh kortikotropin (ACTH) yang berasal dari hipotalamus, lalu masuk ke sirkulasi darah dan menuju korteks adrenal untuk menstimulasi produksi kortisol.

Prinsip kinerja sintesis hormon ini adalah negatif feed back. Apa artinya ?

"Bila kadar kortisol tinggi di dalam darah akibat dari hipersekresi kortisol dalam tubuh (secara endogen) ataupun akibat dari menggunakan obat kortikosteroid secara oral ataupun injeksi (eksogen), maka sekresi ACTH akan ditekan sehingga produksi kortisol dalam tubuh terhenti.


Namun bila kadar hormonnya menurun, sekresi ACTH ditingkatkan untuk menstimulasi korteks adrenal memperbanyak produksi kortisolnya."

Inilah pengertian dari negatif feed back.


Fungsi hormon steroid (adrenokortikoid) adalah glukokortikoid dan mineralokortikoid (retensi garam dan cairan).

Pada manusia, fungsi utama glukokortikoid diperankan oleh kortisol (disebut juga hidrokortison) sedangkan mineralokortikoid diperankan oleh aldosteron.

Hormon kortisol dan aldosteron termasuk hormon steroid.


Obat golongan kortikosteroid memiliki potensi efek glukokortikoid (anti-inflamasi) yang lebih besar daripada mineralokortikoid.

Contoh: metilprednisolon (t½ = 12-36 jam); Triamcinolon (t½ = 12-36 jam); Betamethason (t½ = 36-72 jam); Dexamethason (t½ = 36-72 jam).


Efek mineralokortikoid yang kuat dimiliki oleh senyawa obat aldosteron, deoxycorticosteron, dan fludrocortisone.



Efek Biologis Kortikosteroid


Efek biologis kortikosteroid meliputi:

  • Stimulasi glukoneogenesis (pembentukan glukosa dari senyawa non karbohidrat) dan sintesis glikogen pada fase puasa. Hal ini menyebabkan kadar glukosa meningkat, terjadi stimulasi pelepasan insulin. Peningkatan insulin menstimulasi lipogenesis (pembentukan lipid), menyebabkan peningkatan deposit (penyimpanan) lemak.
  • Efek imunosupresan (menurunkan daya imun tubuh). Glukokortikoid menghambat fungsi jaringan makrofag dan antigen presenting cells (APC) sehingga daya imun tubuh menurun. Glukokortikoid menghambat ekspresi gen limfosit. Produksi antibodi dapat menurun pada dosis besar namun tidak berpengaruh pada dosis terapi.
  • Efek anti-inflamasi. Glukokortikoid meredakan reaksi inflamasi melalui penghambatan fosfolipase A2 sehingga menurunkan sintesis asam arakidonat (prekusor prstaglandin) dan faktor aktivasi platelet. Hasil akhirnya menghambat produksi prastaglandin dan leukotrien. Berbeda mekanisme kerjanya dengan NSAIDs sebagai antinflamasi.

Kortikostroid (Efek Terapi vs Efek Samping)



Efek lain Kortikosteroid Oral


Meliputi:

  • Penggunaan kortikosteroid jangka panjang dapat menekan pelepasan ACTH, hormon pertumbuhan, thyroid stimulating hormone (TSH), dan luteinizing hormone (LH).
  • Pada dosis besar memperparah kondisi peptic ulcer melalui penekanan respon imun lokal yang melawan bakteri Helicobacter pylori.
  • Kortikosteroid menyebabkan penimbunan lemak dalam tubuh
  • Kortikosteroid mengantagonis efek vitamin D dalam penyerapan kalsium..




Penggunaan Kortikosteroid secara klinis


Penggunaan kortikosteroid meliputi:

  • Transplantasi organ. Tujuannya supaya daya atau kekuatan imun melemah saat menimbulkan reaksi penolakan ketika transplantasi organ.
  • Rheumatoid arthritis (peradangan pada persendian).
  • Dermatomiositis (peradangan dan ruam pada kulit).
  • Peradangan baik pada saluran pernapasan yang menyebabkan bronkokonstriksi, peradangan pada mata, rematik, dan jaringan lainnya.
  • Alergi.




Efek Samping Kortikosteroid.


Efek samping di bawah ini baru muncul pada penggunaan yang cukup lama dan rutin. yaitu:

  • Meningkatkan resiko diabetes
  • Menghambat efek vitamin D dlama penyerapan kalsium sehingga menyebabkan osteoporosis.
  • Menghambat pertumbuhan anak-anak.
  • Menyebabkan gemuk pada bagian tubuh tertentu (wajah, bahu, perut) dan udema.
  • Menurunkan daya tahan tubuh (imunosupresan).
  • Meningkatkan resiko hipertensi.
  • Menyebabkan gangguan lambung atau perdarahan lambung.
  • Hipokalemia akibat efek mineralokortikoid.




Penggunaan Kortikosteroid yang Benar 


  • Obat sebaiknya diminum setelah makan (kondisi perut tidak kosong) untuk mencegah iritas lambung
  • Kurangi asupan garam dan minum secukupnya untuk mengurai resiko hipertensi.
  • Lakukan pemantauan kadar glukosa.
  • Tambahkan suplemen atau minuman berkalsium untuk mencegah terjadinya osteoporosis.
  • Tambahkan imunostimulator seperti stimuno untuk meningkatkan daya tahan tubuh.




Aturan minum obat golongan kortikosteroid oral


Obat golongan kortikosteroid strukurnya mirip dengan hormon steroid endogen sehingga penggunaan obat ini jangka panjang tidak boleh dihentikan secara mendadak.

Penghentian harus perlahan-lahan dengan dosis makin lama makin berkurang..

Mengapa demikian?

Karena selama penggunaan obat ini secara sistemik, akan menghentikan produksi hormon kortisol dalam tubuh. (ingat kerjanya feed back negatif).

Jika penggunaannya dihentikan tiba-tiba, tubuh akan kekurangan hormon ini dan mengganggu sistem kerja hormon.



Kontraindikasi  Kortikosteroid.


Penggunaan obat-obat ini dikontraindikasikan untuk pasien yang memiliki penyakut infeksi seperti TBC, osteoporosis, jantung-hipertensi.


Terimakasih semoga ini bermanfaat.

Referensi.

Comments