Skip to main content

Obat Golongan Beta Bloker

Obat Golongan Beta Bloker


Beta bloker merupakan sekelompok obat yang bekerja memblok reseptor beta sebagai target utama aksi obat ini.

Yang menjadi pertanyaan adalah dimana letak reseptor beta terdisitribusi dalam tubuh kita ?

Berikut ini tabel distribusi reseptor beta beserta penjelasannya.


beta bloker


Letak distribusi reseptor beta

  • Organ jantung (SA node, AV node, ventrikel, atrium) terdapat reseptor beta-1 dan 2 yang bila distimulasi oleh saraf simpatis akan meningkatkan denyut jantung, kecepatan aliran listrik jantung, dan kontraksi jantung. Jadi, bila reseptor beta di jantung distimulasi, maka kerja jantung meningkat.
  • Organ hati terdapat reseptor beta-2, yang bila distimulasi akan menimbulkan efek glikogenolisis (penguraian glikogen menjadi glukosa) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa dari senyawa yang bukan karbohidrat). Efek ini menyebabkan kadar glukosa meningkat.
  • Jaringan adiposa (jaringan lemak) terdapat reseptor beta-1 yang bila distimulasi dapat menimbulkan efek lipolisis (pemecahan lemak menjadi asam lemak + gliserol).
  • Bronkus (saluran nafas bagian dalam paru-paru), terdapat reseptor beta-2 yang bila distimulasi menyebabkan bronkodilatasi (pelebaran luas permukaan diameter bronkus).
  • Ginjal (juxtaglomerular apparatus), terdapat reseptor beta-1. Bila distimulasi, maka terjadi pelepasan renin ke aliran darah. kemudian renin diubah menjadi angiotensin 1 (AT-1) oleh angiotensinogen, lalu AT-1 diubah lagi oleh angiotensin converting enzyme (ACE) menjadi angiotensin II (AT-2). Kemudian AT-2 berikatan dengan reseptornya dan menimbulkan tekanan darah arteri meningkat (vasokonstriksi).


Penjelasan di atas hanya sebagian kecil saja. Tentunya masih ada lagi organ-organ dalam tubuh kita yang terdapat reseptor beta.

Efek di atas terjadi ketika reseptor beta-1 dan -2 distimulasi.

Jadi, kerja golongan beta bloker ini adalah memblok reseptor beta, khususnya reseptor beta-1 (beta bloker selektif dosis rendah) tetapi dapat juga memblok reseptor beta-2 untuk obat beta bloker non selektif atau beta bloker selektif pada dosis tinggi).

Ingat, dijantung juga terdapat reseptor muskarinik M₂. Stimulasi reseptor M₂ menyebabkan penurunan kontraksi dan frekuensi denyut jantung



Efek Farmakologi Beta Bloker


Tentunya efeknya berlawanan dengan penjelasan di atas, yaitu:

  • Denyut jantung menurun, kecepatan aliran listrik jantung menurun, kontraksi jantung menurun. Jadi, beta bloker menyebabkan relaksasi jantung (menurunkan beban jantung).
  • Menghambat proses glikogenolisis dan glukoneogenesis yang menyebabkan kadar glukosa menurun.
  • Menghambat proses lipolisis.
  • Bronkokonstriksi (penyempitan luas permukaan diameter bronkus).
  • Menghambat pelepasan renin yang pada akhirnya akan menyebabkan vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) sehingga tekanan arteri menurun.


Efek beta bloker yang diharapkan bisa untuk pengobatan hanyalah relaksasi jantung dan vasodilatasi.

Efek ini tercapai apabila obat golongan beta bloker tersebut hanya spesifik memblok beta-1.

Oleh sebab itu, golongan obat beta bloker selektif sangat direkomendasikan untuk pengobatan hipertensi dan jantung dibandingkan dengan beta bloker nonselektif.

Lalu bagaimana dengan efek lainnya seperti kadar glukosa menurun, menghambat lipolisis, bronkokonstriksi ?

Nah, selebihnya merupakan efek yang tidak diharapkan sehingga bisa dikategorikan merupakan efek samping beta bloker.



Beta Bloker Selektif dan Non Selektif


Obat-obat apa saja yang termasuk beta bloker selektif dan non-selektif ?

  • Beta blokers selektif adalah golongan obat beta bloker yang spesifik memblok reseptor beta-1. Contohnya : asebutolol, atenolol, betaxolol, bisoprolol, metoprolol.
  • Beta bloker nonselektif adalah golongan obat beta bloker yang bekerja selain memblok reseptor beta-1, juga memblok reseptor beta-2. Contohnya : propanolol, timolol, esmolol.

Namun beta bloker selektif juga berpotensi memblok reseptor beta-2 pada dosis besar.



Penggunaan Klinis Beta Bloker.


Bila ditinjau dari efeknya dalam memblok reseptor beta-1, maka beta bloker secara klinis digunakan untuk pengobatan aritmia jantung, pencegahan terhadap serangan jantung sekunder (khususnya infark miokardium), dan hipertensi.



Efek samping dan Perhatian Khusus


  • Bronkokonstriksi (bronkospasme). Pasien yang mempunyai riwayat asma, maka direkomendasikan menggunakan obat beta bloker selektif. Hati-hati penggunaannya bersamaan dengan NSAIDs dan Aspirin akan memperparah serangan asma.
  • Berpotensi menyebabkan hipoglikemia (kadar glukosa menurun). Hati-hati menggunakan obat golongan beta bloker bersamaan dengan obat anti-diabetes.
  • Pusing, akibat dari tekanan darah menurun (hipotensi) sehingga aliran darah ke otak berkurang.
  • Gangguan tidur, mimpi buruk. 
  • Bradikardia
  • Hipotensi


Ada beberapa obat beta bloker yang memiliki kerja tambahan lainnya (tidak terfokus pada reseptor beta saja).

Untuk penjelasan mengenai hal ini, dapat dibaca di sisi lain beta bloker.


Terimakasih.


Referensi.

Comments