Skip to main content

Toksisitas Parasetamol dan Cara Menanggulanginya

Toksisitas Parasetamol dan Cara Menanggulanginya



Parasetamol, atau nama kimianya asetaminofen termasuk golongan OTC (over the counter), yaitu obat yang dapat dibeli secara bebas tanpa resep dokter.

Walaupun termasuk kategori obat bebas, bukan berarti sudah aman sehingga dapat mengkonsumsi obat ini tanpa adanya aturan batasan dosis.

Parasetamol termasuk kategori obat yang paling aman jika dikonsumsi pada dosis terapi.

Tetapi bila dosisnya melebihi dosis terapi (overdosis), maka akan menyebabkan kerusakan hati yang permanen.

Parasetamol merupakan obat analgetik dan antipiretik.

Mekanismenya menghambat sintesis prostaglandin di saraf pusat dan memblok rangsangan nyeri di perifer.

Parasetamol memiliki efek yang lebih lemah dalam menghambat produksi prostaglandin melalui penghambatan COX-2 bila dibandingkan dengan NSAIDs.

Itu sebabnya apabila nyeri akibat adanya peradangan (inflamasi), maka NSAIDs menjadi pilihan utama.

Parasetamol menjadi obat pilihan untuk nyeri otot skeletal ringan hingga moderat tanpa adanya inflamasi (peradangan).

Jika efek analgetik dari parasetamol kurang optimal untuk mengurangi rasa nyeri, sebaiknya diganti dengan obat golongan NSAIDs.

Jangan tingkatkan dosis parasetamol !!!

Mengapa ? tujuannya untuk mencegah efek hepatotoksik dari parasetamol.

Pada dosis yang tinggi, parasetamol dapat menyebabkan hepatotoksik yang irreversible.

Oleh sebab itu, dianjurkan pasien tidak mengkonsumsi parasetamol lebih dari 4 g per hari untuk meminimalkan resiko kerusakan hati.

Dosis maksimum parasetamol yang direkomendasikan untuk pasien dimana kondisi hati dan ginjalnya berfungsi dengan normal adalah 4 g per hari.

Bila pasien mengalami disfungsi hati atau ginjal atau memiliki riwayat penyakit ginjal dan hati, maka dosis maksimum diturunkan 50-70%.

Efek samping parasetamol terhadap potensi iritasi gastrointestinal sangat rendah dibandingkan NSAIDs.

Sehingga obat ini dapat diminum sebelum atau sesudah makan.




Farmakokinetik Parasetamol.


Parasetamol absorbsinya sangat cepat di duodenum.

Kadar puncak serum (peak serum) dicapai dalam waktu kisaran 1-2 jam dari dosis sediaan tablet dan 30 menit untuk sediaan sirup.

Half life (t½ plasma) adalah 1,5 - 3 jam

Parasetamol dimetabolisme di hati yang dimediasi oleh enzim sitokrom P450 (CYP450).

Proses metabolismenya seperti gambar di bawah ini

Metabolisme Parasetamol



Ada tiga fase metabolisme parasetamol di dalam hati.

Sekitar 90% parasetamol mengalami jalur fase II yaitu reaksi konjugasi yang dikatalisis oleh UDP-glucuronosyl transferases (UGT) dan sulfotransferase (SULT).

Reaksi fase II ini mengubah parasetamol menjadi metabolit polar yaitu glucouronidat and sulfat yang kemudian dieliminasi dari tubuh lewat urin.

Hal ini dikarenakan pada struktur parasetamol terdapat gugus hidroksil benzen.

Dalam jumlah yang sangat kecil, sekitar 2%, parasetamol diekskresikan dalam bentuk utuh tanpa mengalami metabolisme.

Sekitar 5-9% dari parasetamol mengalami metabolisme fase I yaitu oksidasi di hati oleh hepatic cytochrome CYP 2E1 (sebagian lagi CYP 1A2 dan 3A4).

Hasil reaksi fase I ini menghasilkan metabolit toksik yang sangat reaktif yaitu N-acetyl-para-benzo-quinone imine (NAPQI).

Senyawa NAPQI ini dapat merusak sel-sel hati secara permanen (hepatotoksik).


Bila dosis parasetamol berada dalam rentang area terapi (1,5-2g per hari), maka metabolit NAPQI masih sedikit dan radikal bebas yang terbentuk dapat dinetralisir langsung oleh glutathione (GSH) sehingga tidak merusak sel-sel hati.


Glutathion merupakan antioksidan alami yang diproduksi di hati berfungsi melindungi sel-sel hati dari serangan radikal bebas.


Jalur sintesis glutathion.



Toksisitas Parasetamol dan Cara Menanggulanginya
 (Sumber: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2637612/figure/F1/)


Apabila dosis parasetamol mencapai area toksik (overdosis), maka produksi NAPQI sangat banyak.


Kondisi ini tidak mampu lagi dinetralisir oleh glutathion sehingga NAPQI secara bebas merusak sel-sel hati.



Reaksi metabolisme parasetamol .



Toksisitas Parasetamol dan Cara Menanggulanginya
(Sumber: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2637612/figure/F1/)



Cara Menaggulangi Toksisitas Parasetamol.


  • Charcoal aktif (karbon aktif)  diberikan pada pasien dewasa yang overdosis parasetamol. Karbon aktif dapat menurunkan absorbsi (penyerapan) parasetamol di saluran cerna. Karbon aktif diberikan segera setelah pasien baru saja overdosis parasetamol atau sudah minum 1 jam yang lalu.
  • Atau diberikan N-acetylcysteine (NAc) secara intravena atau oral. NAc merupakan antidotum parasetamol, bekerja sebagai perkusor untuk glutathion. NAc efektif mencegah keracunan parasetamol dalam waktu 8 jam sejak pasien mengalami overdosis. Semakin cepat diberikan, maka akan semakin baik. NAc dapat menurunkan mortalitas overdosis parasetamol daro 5% menjadi 0,7%. Dosis maksimum NAc = 110 kg untuk sediaan oral dan100 kg untuk IV)


Yang harus diperhatikan adalah jangan menggunakan charcoal (karbon aktif) dan asetilsistein secara bersamaan.

Hal ini dapat menyebabkan asetilsistein diserap oleh Charcoal sehingga asetilsistein tidak efektif.

Untuk informasi di atas, sobat bisa baca lebih lanjut referensi di bawah ini.





Penggunaan Parasetamol yang Aman.

  • Gunakan sesuai dengan dosis dan bentuk sediaan yang tepat. Sediaan parasetamol drops (sanmol drops) untuk bayi (< 2 tahun); sediaan sirup untuk anak-anak, sedangkan tablet untuk dewasa.
  • Jika anak mengalami step (demam-kejang), berikan bentuk sediaan suppositoria dari obat diazepam-parasetamol.
  • Dapat diminum sebelum atau sesudah makan.
  • Apabila efek analgetik tidak tercapai dengan parasetamol, maka sebaiknya diganti dengan obat-obat golongan NSAIDs. Jangan tingkatkan dosis parasetamol. Dosis maksimum parasetamol yang direkomendasikan untuk pasien dengan kondisi hati dan ginjal yang baik adalah 4 g per hari).


Referensi tambahan:


Oke cukup sekian dulu, semoga bermanfaat. Terimakasih.

Comments