Skip to main content

Antioksidan dan Radikal Bebas

Antioksidan dan Radikal Bebas



Antioksidan dan Radikal Bebas


Radikal bebas adalah spesi kimia, baik atom atau molekul, yang tidak stabil karena pada kulit terluarnya memiliki elektron yang tidak berpasangan (unpaired electron) dan sangat reaktif untuk mencari elektron dari senyawa biomolekul yang lain supaya menjadi molekul yang stabil.


Masih ingatkan pelajaran kimia dasar, bahwa spesi kimia (atom atau molekul) dikatakan stabil apabila memenuhi kaidah oktet yaitu jumlah elektron pada kulit terluarnya (elektron valensi) adalah 8.


Untuk mencapai kestabilan atom atau molekul, maka radikal bebas bereaksi dengan biomolekul disekitarnya seperti protein, lipid, karbohidrat, dan biomolekul lainnya.

Senyawa biomolekul ini mengandung elektron sehingga bisa dicuri oleh radikal bebas.


Alhasil senyawa biomolekul tersebut akan menjadi radikal yang baru. Reaksi ini terus menerus berlangsung dalam tubuh (reaksi berantai) sehingga produksi radikal bebas meningkat.


Reaksi berantai akan menimbulkan stress oksidatif, yaitu ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan produksi antioksidan dalam tubuh.


Bila reaksi ini tidak dihentikan, akan menimbulkan berbagai penyakit kanker, jantung, katarak, penuaan dini, penyakit diabetes melitus, serta penyakit degeneratif lainnya.


Senyawa yang mampu menangkal aktivitas radikal bebas adalah senyawa antioksidan, dengan cara melengkapi kekurangan elektron radikal bebas dan menghambat terjadinya reaksi berantai dari pembentukkan radikal bebas sehingga radikal bebas menjadi molekul yang stabil.

Antioksidan dan Radikal Bebas


Senyawa antioksidan ada yang diproduksi dalam tubuh (secara endogen), ada yang berasal dari alam, dan ada juga yang sintetik.


Antioksidan dapat diperoleh dari luar tubuh (eksogen) seperti makanan, sayuran, dan buah contohnya vitamin C, vitamin E, beta karoten, polifenol (flavonoid), dan lainnya.


Antioksidan yang diproduksi di dalam tubuh (secara endogen) berupa enzim, contohnya superoksida dismutase (SOD), katalase (CAT), glutation peroksidase (GPx).


Antioksidan juga ada yang berasal dari sintetik contohnya butil hidroksi toluen (BHT), butil hidroksil anisol (BHA), tetra-butilhidroquinon (TBHQ) dan propylhalat (PG).


Berbagai jenis antioksidan di atas bekerja bersama dalam melindungi jaringan atau sel-sel normal dari reaksi radikal bebas dan menetralisirnya.


Oleh sebab itu, tubuh kita memerlukan suatu substansi penting yaitu antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas tersebut sehingga tidak dapat menimbulkan suatu penyakit.


Tidak cukup hanya bergantung pada antioksidan endogen, tubuh juga membutuhkan suplai antioksidan eksogen yang berasal dari bahan alam seperti buah, sayur, obat tradisional lainnya yang mengandung senyawa polifenol.


Prinsip mekanisme kerja antioksidan dalam menetralisir radikal bebas adalah reaksi redoks (reduksi-oksidasi). Reaksi oksidasi dan reduksi adalah 2 jenis reaksi yang berbeda namun berlangsung disaat bersamaan (tidak dapat dipisahkan).

Misalnya:

Senyawa A mengoksidasi senyawa B, mengakibatkan senyawa B teroksidasi.

Dalam hal ini senyawa A mengalami reduksi akibat senyawa B (senyawa B mereduksi senyawa A). Berarti senyawa A adalah oksidator dan B adalah reduktor.


Definisi oksidasi dan reduksi bila ditinjau dari serah terima elektronnya adalah sbb:

Oksidasi: melepaskan elektron. Berdasarkan contoh di atas senyawa B mengalami oksidasi berarti senyawa B melepaskan elektronnya.


Reduksi: menerima elektron. Senyawa A mengalami reduksi, berarti senyawa A menerima elektron yang berasal dari senyawa B.


Nah, antioksidan menstabilkan radikal bebas dengan cara mendonorkan elektronnya ke radikal bebas.


Berarti radikal bebas mengalami reduksi sedangkan antioksidan mengalami oksidasi. Antioksidan bertindak sebagai reduktor sedangkan radikal bebas sebagai oksidator.

Oke cukup sekian dulu, semoga bermanfaat. Terimakasih..

Comments