Skip to main content

Sistem Imun Tubuh

Sistem Imun Tubuh


Sistem Imun Tubuh


Sistem imun tubuh merupakan sistem pertahanan (resistensi) tubuh terhadap antigen. Antigen merupakan suatu substansi asing yang dapat memicu reaksi imun tubuh. 

Contoh dari antigen adalah mikroba (bakteri, virus, jamur, parasit), racun, protein asing, dan jaringan asing pada transplantasi organ. Oleh adanya sistem imun dalam tubuh, maka kita tidak langsung sakit apabila terpapar antigen.


Bila daya imun tubuh melemah, maka tubuh sangat rentan terinfeksi apabila terpapar antigen atau patogen. Salah satu penyebab daya imun tubuh menurun adalah akibat efek samping dari penggunaan obat. 



Contohnya obat golongan kortikosteroid (deksametason, prednisolon, flutikason); obat obat kanker seperti siklofosfamid, metotreksat. 
Semua senyawa yang dapat menyebabkan penurunan fungsi sistem imun disebut imunosupresan.


Umumnya, senyawa imunosupresan digunakan saat persiapan sebelum melakukan transplantasi organ atau jaringan. Tujuannya supaya daya imun tubuh menjadi lemah dalam melakukan reaksi penolakan pada jaringan atau organ yang ditransplantasi sehingga jaringan atau organ tersebut tidak rusak



Selain itu, penggunaan imunosupresan adalah untuk menekan reaksi autoimun. Pada kondisi kelainan seperti ini, imun tubuh tidak mengenali jaringan/ sel sebagai jaringan normal, melainkan mengenalinya sebagai jaringan asing.



Adapun senyawa yang mampu meningkatkan daya imun tubuh. Senyawa ini disebut imunostimulator. Contohnya curcuma, stimuno.



Sistem pertahanan tubuh memiliki 3 lini pertahanan. Pertahanan I berupa pertahanan fisik seperti kulit, enzim proteolitik, bulu, air mata. 



Pertahanan ini menjadi baris terdepan untuk mencegah antigen untuk masuk ke dalam tubuh. Sifat pertahanan ini adalah non-spesifik yang menangkal semua jenis antigen.


Apabila pertahan lini pertama berhasil ditembus oleh antigen, maka antigen akan masuk ke dalam sirkulasi darah dan menginfeksi jaringan. 

Namun sebelum ini terjadi, antigen tersebut akan berhadapan dengan pertahanan lini II yaitu innate imunity (imunitas alamiah). 


Pertahanan lini II
telah ada sejak manusia lahir. Contohnya neutrofil, monosit yang akan berdiferensiasi menjadi makrofag dalam jaringan dan sel dendrit, eosinofil, NK-sel. 



Pertahanan lini II bekerja memfagosit antigen yang bersirkulasi dalam darah dan menghancurkan jaringan atau sel yang telah terinfeksi tanpa melalui proses pengenalan (presentasi) antigen terlebih dahulu. Jadi, pertahanan lini ke II merespon semua jenis antigen (non-spesifik) dengan segera. 



Bila antigen tidak bisa dibunuh oleh lini pertahanan II, maka  komponen pertahanan lini II akan mengaktivasi pertahanan lini III untuk aktif bekerja. Tentunya dalam mengaktivasi pertahanan lini III ini, butuh proses pengenalan terhadap antigen (presentasi antigen) terlebih dahulu. 



Itu sebabnya pertahanan lini III tidak dapat langsung merespon antigen dengan segera. Butuh proses pengenalan (presentasi antigen) dan aktivasi.



Sistem pertahanan lini III meliputi antibodi dan sel T. Antibodi, dibentuk dari sel B di sumsum tulang, lalu masuk ke dalam sirkulasi dan bekerja menetralisir antigen yang bersirkulasi dalam darah.



Sel T dibentuk di timus dan berdiferensiasi menjadi sel T sitotoksik, sel T helper, dan sel T regulator/ supresor. Sel T sitotoksik membunuh sel yang sudah terinfeksi oleh mikroba patogen. 



Selain itu sel T sitotoksik juga dapat membunuh sel kanker dan tumor. Sel T helper membantu meningkatkan produksi antibodi dan respon imun lainnya. Sedangkan regulator mengatur kinerja sel T agar tidak bekerja berlebihan.



Sistem pertahanan III memiliki sel memori untuk mengenal dan mengingat antigen yang sudah pernah masuk ke dalam tubuh. Sehingga apabila antigen yang sama masuk lagi ke dalam tubuh, maka sistem antibodi dan sel T sitotoksik sudah dapat langsung bekerja menetralisir antigen tersebut tanpa melalui proses pengenalan dan aktivasi lagi. 


Sistem pertahanan lini III bekerja spesifik terhadap antigen tertentu.


Artikel selanjutnya: Pemaparan Antigen oleh MHC 

Comments