Skip to main content

Penggunaan Metoclopramide dan Interaksinya

Penggunaan Metoclopramide dan Interaksinya

Metoclopramide adalah golongan obat antiemetik, yang diindikasikan untuk mengatasi rasa mual dan muntah akibat penggunaan obat kemoterapi, radioterapi, dan gangguan lambung (GERD).

Mekanisme kerja  metoclopramide sebagai antiemetik adalah
  • Memblok reseptor dopamin D2 di chemoreceptor trigger zone (CTZ) medulla (area postrema) sehingga dapat meredakan mual dan muntah.
  • Memblok reseptor D2 di saluran pencernaan sehingga meningkatkan motilitas lambung (mendorong makanan cepat keluar dari lambung menuju usus). 

Untuk memperoleh obat ini, sebaiknya harus dengan resep dokter.


Penggunaan Metoclopramide


Untuk dosis sediaan tablet,  diminum 3-4 x sehari 10 mg, 30 menit sebelum makan dan pada waktu tidur, selama 5 hari pengobatan.

Perhatikan jarak waktu minum obat-obatan yang lain disaat menggunakan metoclopramide (berikan jeda waktu).

Pada pemberian secara oral, efek obat ini mulai timbul (onset of action) sekitar 30-60 menit.
 

Interaksi metoclopramide dengan obat lainnya.


Metoclopramid dapat mempercepat pengosongan lambung. Padahal pada area saluran cerna ini, adalah tempat dimana obat diabsorpsi.


Jadi, bagaimana interaksinya ?

Tentunya, metoclopramid akan menghambat proses absorbsi sejumlah obat yang diabsorbsi baik di lambung seperti captopril, aspirin, digoxin, dsb.

Akibatnya bioavailabilitas obat menjadi menurun, efek terapinya pun juga menurun.

Metoclopramid juga menyebabkan waktu kontak obat dengan mukosa lambung menjadi lebih singkat sehingga proses absorbsi obat di lambung tidak optimal.

Pada sisi lain, metoclopramide justru akan mempercepat absorbsi sejumlah obat-obatan tertentu di usus halus.

Umumnya, obat-obat yang diabsorbsi baik di daerah usus halus adalah obat-obat yang bersifat basa lemah.

Hal ini karena pada pH usus, obat tersebut tidak terionisasi, sehingga mudah untuk diabsorbsi. (Baca: Faktor yang mempengaruhi absorbsi obat)

Metoclopramide meningkatkan waktu pengosongan lambung, sehingga obat cepat menuju area usus.

Di usus, obat tersebut diabsorbsi dengan baik sehingga efek obat menjadi lebih optimal. .

Bila ditinjau dari segi anatomisnya, luas permukaan mukosa area usus jauh lebih besar daripada lambung dan terdapat banyak mikrovili.

Hal ini meningkatkan waktu kontak obat pada permukaan mukosa usus, sehingga (juga dengan adanya bantuan mikrovili di usus), absorbsi obat menjadi lebih optimal.

Salah satu contoh interaksinya, adalah interaksi metoclopramide dengan cyclosporine.

Metoclopramid dapat meningkatkan absorbsi obat cyclosporine, sehingga perlu pemantauan kadar cyclosporine dalam plasma.

Referensi :

 

Comments