Skip to main content

Dosis Obat

Dosis Obat


Obat itu ibarat seperti pedang bermata 2. Artinya disatu sisi bisa mengobati atau mencegah penyakit tapi disisi lain bisa jadi racun bagi tubuh, malah menimbulkan penyakit baru.

Jadi, tidak selamanya obat itu bisa menyembuhkan penyakit. Semuanya itu, tergantung pada "Dosis Obat yang diberikan."

Dosis-lah yang menentukan "Jati Diri Obat" yang sebenarnya (apakah sebagai racun atau sebagai obat yang menyembuhkan).

Contoh: Parasetamol termasuk obat yang aman dikonsumsi (obat bebas), bisa dibeli tanpa resep dokter.

Namun apa jadinya kalau ada balita demam, dikasih parasetamol tablet dengan dosis 500 mg untuk 1 x minum.

Itu namanya parasetamol sebagai racun, bukan sebagai obat penurun demam (Baca: Toksisitas Parasetamol dan Cara Menanggulanginya).

Seharusnya untuk balita diberi sediaan drop parasetamol. Itu baru namanya parasetamol sebagai obat.

Dosis Obat adalah takaran tertentu dari suatu obat yang memberikan efek tertentu terhadap suatu penyakit atau gejala penyakit.

Efek tertentu dari suatu obat bisa berupa efek penyembuhan atau pencegahan.

Ada banyak faktor yang menentukan dosis dan jadwal pemberian obat (regimen obat), diantaranya:

  • Potensi obat
  • rute pemberian
  • faktor pasien seperti berat badan, usia, dll.
  • kondisi penyakit
  • efek toleransi



Jenis jenis dosis obat berdasarkan penggunaannya:

  • Dosis muatan (loading dose) merupakan dosis awal yang diberikan agar cepat mencapai kadar obat dalam darah pada area terapi sehingga menghasilkan efek terapi yang dinginkan. Lalu diikuti dengan dosis pemeliharaan yang takarannya lebih kecil dari dosis muatan
  • Dosis pemeliharaan ditujukan untuk mempertahankan kadar obat dalam darah agar tetap menghasilkan efek terapi
  • Dosis profilaksis ditujukan untuk pencegahan penyakit
  • Dosis terapi ditujukan untuk pengobatan

Biasanya dosis terapi lebih tinggi dari dosis profilaksis.

Lalu ada juga istilah indeks terapi yang dapat dicari dengan rumus di bawah ini.
Dosis Obat

Indeks terapi adalah rentang jarak antara dosis minimum efektif dengan dosis minimum toksik.


Dosis Obat

Gambar di atas merupakan Kurva kadar obat dalam plasma terhadap waktu yang diperoleh dengan cara mengukur konsentrasi obat dalam cuplikan plasma darah yang diambil pada berbagai jarak waktu setelah pemberian suatu produk obat.


Setiap obat memiliki indeks terapi yang berbeda-beda.

Semakin besar indeks terapi suatu obat maka semakin aman. Begitu juga sebaliknya.

Semakin sempit indeks terapi, maka semakin tidak aman.

Mengapa ?

Karena rentang perbedaan takaran dosis terapi (efektif) dengan dosis toksik sangat kecil.

Jadi, kalau kelebihan dosis sedikit saja, sudah berpotensi menyebabkan efek toksik.

Contoh obat yang memiliki indeks terapi sempit adalah : digoksin, fenitoin, teofilin.

Ada juga istilah Efek Toleransi. Apa itu efek toleransi ?

Efek toleransi artinya tubuh membutuhkan dosis yang semakin meningkat untuk menghasilkan efek farmakologi yang sama.

Umumnya obat yang menimbulkan efek toleransi adalah obat penenang seperti golongan benzodiazepin (diazepam, alprazolam, dll) dan golongan barbiturat (fenobarbital).

Efek toleransi akan sangat berpotensi besar menuju efek ketergantungan obat.

Bila diteruskan dalam penggunaan jangka lama, akan menyebabkan ketergantungan obat.

Itu sebabnya, obat yang berpotensi menimbulkan efek toleransi, tidak boleh dijual bebas, harus dibeli atas dasar resep dokter dan tidak boleh menggunakan copy resep.




Perhitungan Dosis Obat

Perhitungan dosis obat ada beberapa cara, ada yang berdasarkan usia, berat badan atau luas permukaan tubuh.



Berdasarkan Usia

Metode perhitungan ini kurang akurat karena hanya mempertimbangkan usia tanpa berat badan.

Bisa saja usianya sama, tapi bobot dan ukuran tubuh berbeda.

Namun jika informasi yang tersedia adalah usia, maka gunakan rumus:



Dosis Obat
Dosis Obat





Berdasarkan bobot badan

Jika bobot badan diketahui maka dapat digunakan hukum Clark.

Dosis lazim obat umumnya dianggap sesuai untuk individu yang bobotnya 70 kg (150 pon)



Ratio antara jumlah (dosis) obat yang diberikan dengan ukuran tubuh, sangat mempengaruhi konsentrasi obat di tempat kerjanya (site of action). 

Oleh karena itu, dosis obat mungkin perlu disesuaikan dari dosis lazim dewasa untuk pasien kurus atau gemuk yang tidak normal.




Dosis Obat


atau bisa juga,
(bobot badan dalam kg /70) x dosis dewasa.


Berdasarkan Luas Permukaan Tubuh (body surface area, BSA)


Metode ini memberikan hasil yang paling akurat karena mempertimbangkan kondisi tubuh (tinggi dan bobot badan) pasien.

Metode ini banyak digunakan untuk menghitung dosis pada  :

  • Pasien kanker yang menerima obat kemoterapi 
  • Pasien pediatrik (kecuali bayi prematur dan bayi normal yang fungsi hati dan ginjalnya belum sempurna sehingga memerlukan penilaian tambahan dalam pengaturan dosis).


Rumus berdasarkan luas permukaan tubuh menggunakan BSA dewasa rata-rata, yaitu 1,73 m2.


Dosis ObatDosis Obat





Latihan Soal

Dosis lazim lorakarbef (Lorabid) untuk faringitis atau tonsilitis pada anak-anak sampai usia 6 tahun adalah 15 mg/kg/hari dalam dosis terbagi yang diberikan setiap 12 jam. Berapa regimen dosis untuk anak berusia 4 tahun dengan bobot 36 pon ?


Dosis lazim selekoksib (Celebrex) untuk dewasa adalah 100 mg dua kali sehari, untuk dosis tunggal 200 mg/hari. Berapa banyak selekoksib per dosis yang harus diterima oleh seorang anak berbobot 52 pon ?

Dosis kaptopril untuk dewasa adalah 12,5 sampai 50 mg t.i.d (3x sehari). Berapa rentang dosis untuk seorang dewasa  yang tingginya 74 inci dan bobotnya 270 pon ?

Comments