Skip to main content

Konsep Metabolisme Obat Yang Harus Diketahui

Konsep Metabolisme Obat



Proses metabolisme obat sangat mempengaruhi efek farmakologi, lama kerja obat, dan juga toksisitas obat.

Tujuan utama dari proses metabolisme obat adalah mengubah suatu senyawa menjadi lebih polar supaya dapat diekskresikan dari tubuh, terutama oleh ginjal menjadi urin.



Proses metabolisme obat pada organ hati


Ada 2 tahap secara umum yaitu reaksi metabolisme fase I dan fase II


Reaksi metabolisme fase I


Reaksi ini meliputi oksidasi, reduksi, hidrolisis. Tujuannya adalah mengubah atau menambahkan gugus fungsional yang bersifat polar seperti: -OH, -COOH, -NH₂, -SH, ke dalam struktur molekul obat.

Contohnya:

  • Reduksi gugus keton pada struktur obat menjadi alkohol (-OH).
  • Oksidasi gugus alkohol menjadi asam karboksilat (-COOH)
  • Hidrolisis gugus ester atau amida pada struktur obat menjadi gugus -COOH, -NH₂, -OH.
  • Reduksi senyawa azo atau gugus nitro menjadi -NH₂.

Meskipun hasil reaksi fase I terkadang belum menghasilkan senyawa yg cukup polar, tetapi sudah menghasilkan gugus fungsional yg mudah terkonjugasi (mudah mengalami reaksi fase II).

Oleh sebab itu, setelah reaksi fase I, dilanjutkan ke reaksi fase II, untuk membentuk senyawa konjugat polar, mudah larut dalam air, lalu diekskresikan melalui urin.



Reaksi metabolisme fase II


Reaksi ini meliputi konjugasi, metilasi, asetilasi.

Tujuannya adalah mengikat gugus fungsional metabolit hasil reaksi fase I tadi dengan senyawa endogen yang mudah terionisasi (bersifat polar), seperti asam glukuronat, sulfat, glisin, glutamin, sehingga menghasilkan senyawa konjugat yang mudah larut dalam air.

Semua reaksi di atas menjadikan suatu senyawa obat menjadi lebih polar atau lebih hidrofil sehingga mudah untuk diekskresikan oleh ginjal dari dalam tubuh.

Tentunya kalau lebih polar atau hidrofil pasti lebih mudah larut dalam air.

Jadi, semakin polar suatu senyawa, semakin mudah untuk diekskresikan dari tubuh sehingga obat memiliki waktu paruh dan durasi kerja obat yang singkat.

Akibatnya, frekuensi pemberian obat pun semakin sering supaya mencapai efek obatnya lebih optimal. Misalnya menjadi 3-4x sehari.

Ada beberapa petunjuk untuk menentukan sifat kepolaran suatu senyawa. Bisa dibaca di Cara menentukan kepolaran senyawa kimia.

Perlu diperhatikan juga bahwa semakin sering frekuensi pemberian obat akan berisiko pada menurunnya tingkat kepatuhan penggunaan obat, khususnya pada pasien lansia.

Jadi, kalau bisa pemberian obat itu sebaiknya 1x sehari karena lebih mudah mengingatnya.




Konsep Metabolisme Obat Prodrug


Konsep metabolisme seperti yang dijelaskan di atas berbeda untuk Prodrug.

Apa itu prodrug ?

Prodrug adalah sedian obat inaktif dan akan berubah menjadi aktif setelah melalui proses metabolisme (menjadi metabolit aktif).

Jadi, tidak semua obat menjadi tidak aktif (inaktif) setelah melalui proses metabolisme.

Apa saja contoh obatnya ?

Sobat bisa baca artikel rujukan di bawah ini Cytochrome P450-activated prodrugs (pdf)

Saya ambil beberapa contoh reaksi metabolisme obat menjadi senyawa metabolit yang aktif di bawah ini.

Perubahan kodein menjadi metabolit morfin yang memiliki aktivitas farmakologi yang jauh lebih besar daripada kodein.


Metabolisme Obat


Clopidogrel yang berubah menjadi metabolit aktif memblok reseptor P2Y12 yang menghambat aktivasi platelet.


Metabolisme Obat




Proses Metabolisme Obat yang bersifat sangat lipofilik


Senyawa yang bersifat lipofilik, absorbsi obatnya cepat dan mudah menembus membran biologis melalui difusi pasif.

Di ginjal, senyawa obat yang masih lipofilik mudah mengalami reabsorbsi di sepanjang tubulus sehingga sangat sedikit diekskresikan melalui urin.

Tubuh mengeliminasinya melalui proses metabolisme dan mengubahnya menjadi senyawa lebih polar, lalu diekskresikan.


Metabolisme Obat


Seandainya suatu obat tidak mengalami metabolisme, misalnya akibat kerusakan fungsi hati, maka obat tetap dalam peredaran darah/ jaringan, dan menimbulkan efek farmakologis yang tidak terbatas atau mungkin efek toksik.


Oleh sebab itu, untuk obat ini, frekuensi pemberian obatnya menjadi lebih singkat untuk mencegah toksisitas obat. misalnya 1x sehari.


Pertimbangan tentang lipofilik dan hidrofilik menjadi sangat penting karena sangat berpengaruh lama kerja obat, toksisitas, efek samping, dan efek farmakologisnya .

Comments