Skip to main content

Bronkodilator

Bronkodilator



Bronkodilator adalah golongan obat yang bekerja melebarkan diameter bronkus dan bronkiolus dan diindikasikan untuk pengobatan asma.

Golongan obat yang termasuk dalam kelompok bronkodilator adalah:

  • Golongan selektif beta-2 agonis
  • Golongan Metilxantin
  • Golongan antimuskarinik.

Inti dari mekanisme kerja bronkodilator ini adalah meningkatkan kadar cAMP (siklik adenosin monofosfat) yang walaupun masing-masing golongan caranya berbeda-beda.



Bronkodilator Selektif Beta-2 agonis


Ada 2 jenis bronkodilator golongan selektif beta-2 agonis yaitu:

  • Long Acting selektif Beta-2 agonis. Contohnya: salmeterol, formoterol.
  • Short Acting selektif Beta-2 agonis. Contohnya: terbutalin, salbutamol, fenoterol, albuterol. Ini termasuk bronkodilator kerja cepat untuk pengobatan asma akut.



Mekanisme Kerja Senyawa Beta-2 Agonis.


Pada sel otot polos bronkus, terdapat reseptor beta-2.

Apabila reseptor ini distimulasi oleh senyawa agonis endogen (neurotransmiter) seperti epinefrin, maka akan terjadi bronkodilatasi.

Reseptor beta-2 tergandeng dengan protein Gs (stimulatory G Protein).

Jika reseptor ini diduduki oleh senyawa agonis (salbutamol, albuterol, salmeterol), maka akan mengaktivasi adenilat siklase.

Aktifnya adenilat siklase akan mengubah ATP menjadi cAMP (siklik adenosin monofosfat) sehingga kadar cAMP meningkat.

cAMP berikatan dengan MLCK (myosin light chain kinase) sehingga menghambat ikatan miosin-aktin pada sel otot polos sehingga terjadi relaksasi (bronkodilatasi).


Bronkodilator






Bronkodilator Golongan Metilxantin.

Contoh obat golongan ini adalah: Theophyllin, Aminophyllin.

Pada fisiologis normalnya, setelah terjadi peningkatan kadar cAMP akibat distimulasi senyawa agonis, maka sebagian cAMP akan didegradasi oleh enzim fosfodiesterase menjadi 5-AMP inaktif.

Metilxantin bekerja menghambat aktivitas enzim fosfodiesterase sehingga peningkatan kadar cAMP tetap terpelihara.



Bronkodilator Metilxanthin





Bronkodilator Golongan Antikolinergik


Mekanisme Kerjanya bisa dibaca selengkapnya di Antikolinergik.

Mekanisme golongan obat ini agak sedikit berbeda dengan golongan beta-2 agonis dan metilxantin.

Namun pada intinya, efek farmakologinya sama, yaitu relaksasi otot polos bronkus (bronkodilatasi) melalui peningkatan kadar cAMP.

Perlu diingat bahwa antikolinergik sering disebut juga parasimpatolitik. Target aksinya adalah memblok reseptor muskarinik.

Dalam sel otot polos bronkus, selain terdapat reseptor beta-2; juga terdapat reseptor muskarinik.


Gambaran posisi reseptor muskarinik dan beta-2 pada sel otot polos bronkus dapat dilihat di bawah ini


Bronkodilator


Reseptor Muskarinik terikat dengan protein Gi (inhibitory G protein).

Bedanya dengan reseptor adrenergik beta-2 adalah adrenoreseptor beta-2  tergandeng dengan protein Gs.

Reseptor Muskarinik diaktivasi oleh senyawa endogen neurotransmiter, yaitu Asetilkolin (ACh). Akibatnya, terjadi penghambatan enzim adenilat siklase.

Nonaktifnya adenilat siklase berdampak pada penurunan kadar cAMP (ATP tidak diubah menjadi cAMP).

Jika kadar cAMP menurun, maka kompleks Ca²⁺-calmodulin secara bebas akan mengaktifkan MLCK.

MLCK aktif akan mengaktifkan miosin untuk berikatan dengan aktin, terjadilah kontraksi otot polos (bronkokonstriksi).


Bronkodilator
   

Obat golongan antikolinergik (Ipratropim bromida) bekerja memblok reseptor Muskarinik pada sel otot polos bronkus sehingga adenilat siklase tetap aktif.

Adenilat siklase mengubah ATP menjadi cAMP. Jadi, dengan memblok reseptor Muskarinik, maka kadar cAMP tetap terpelihara.

cAMP berikatan dengan MLCK sehingga menghambat ikatan aktin-miosin, terjadilah relaksasi (bronkodilatasi).

Referensi:

Comments