Skip to main content

Dumolid, Sejenis Psikotropika

Dumolid, Sejenis Psikotropika


Dumolid, Obat inilah yang menjerat Tora Sudiro ke ranah hukum

Terkait masalah yang lagi booming saat ini, membuat kita semakin waspada akan penggunaan obat.

Khususnya obat golongan psikotropika dan narkotika.

Namun, alangkah baiknya Kewaspadaan itu didasari dengan pengetahuan.

Artinya bukan hanya waspada tanpa mengetahui alasan ilmiahnya mengapa harus diwaspadai.

Untuk itu saya menulis artikel ini, mudah-mudahan berguna bagi para sobat.



Dumolid termasuk golongan psikotropika.


Psikotropika merupakan suatu zat kimia atau obat, baik alamiah maupun sintesis, yang bekerja mempengaruhi sistem saraf pusat sehingga berdampak pada perubahan yang khas pada perilaku dan aktivitas.


Yang harus diwaspadai dari penggunaan psikotropika, (dumolid), ini adalah Sindrom Ketergantungannya.

Itu sebabnya, peresepan dan penggunaan obat golongan narkotika dan psikotropika harus diawasi secara ketat oleh BPOM dan Dinas Kesehatan

Pengawasan dimulai dari produksinya sampai distribusinya hingga ke tangan konsumen.

Penggunaan Psikotropika, termasuk Dumolid, akan menimbulkan efek Toleransi pada penggunaan jangka panjang.

Apa itu Efek toleransi ?

Efek toleransi merupakan kondisi dimana tubuh membutuhkan dosis yang lebih besar lagi untuk menghasilkan efek sama seperti semula.

Contoh:

Mr X menggunakan Dumolid 5 mg secara rutin setiap hari untuk menghasilkan efek penenang, menghilangkan depresi.

Nanti akan ada masanya dimana kondisi tubuh tidak merasakan lagi efek penenang dari Dumolid pada dosis 5 mg.

Sehingga dosisnya harus ditingkatkan misal 10 mg untuk menghasilkan efek yang semula.

Jika masih rutin digunakan, akan ada lagi masanya dimana dosis 10 mg tidak ngefek lagi.

Tingkatkan dosis lagi misal menjadi 15 mg.

Terus menerus seperti itu, sampai menjadi sindrom ketergantungan obat.

Ngeri juga ya..

Makanya penggunaan obat ini harus dalam pengawasan

Untuk memperoleh obat ini di apotek, termasuk Dumolid, harus menggunakan resep dokter.

Hal ini berarti bahwa pemberian obat psikotropika berdasarkan pertimbangan klinis hasil diagnosa para medis dengan tujuan untuk pengobatan.

Kalau memberi obat golongan psikotropika dan narkotika tanpa resep dokter, diduga bentuk penyalahgunaan bukan untuk tujuan pengobatan.



Golongan Psikotropika


Psikotropika dibagi menjadi 4 golongan berdasarkan kekuatannya menimbulkan sindrom ketergantungan.


Psikotropika gol I


Paling kuat menyebabkan ketergantungan sehingga penggunaannya dibatasi hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan penelitian BUKAN untuk Pengobatan.


Psikotropika gol II


Contohnya: amfetamin, deksamfetamin, sekobarbital, dll.


Psikotropika gol III


Contohnya: amobarbital, flunitrazepam, pentobarbital, dll.


Psikotropika gol IV,


Menyebabkan sindrom ketergantungan yang paling lemah sehingga dapat digunakan untuk pengobatan.


Contohnya: diazepam, nitrazepam, fenobarbital, Alprazolam, Klobazam, dll.


Masih banyak lagi jenis-jenis obatnya yang tidak bisa saya tuliskan satu per satu.


Secara klinis, psikotropik golongan IV digunakan untuk

  • Sedative-hipnotik (penenang dan obat tidur)
  • Anxiolitik (anti-depresi, anti-kecemasan)
  • Antikonvulsan (untuk kejang-kejang otot, biasanya pada penyakit epilepsi).


Nah, kabarnya Tora Sudiro menggunakan Dumolid yang isinya Nitrazepam, obat psikotropik golongan IV.



Mekanisme Kerja Dumolid


Bagaimana kerja Dumolid (psikotropika) ?


psikotropika



Dumolid adalah golongan Benzodiazepin yang kerjanya mirip dengan neurotransmiter GABA (gamma amino butytic acid) yang menduduki reseptor GABA.

Istilah dalam farmakodinamik disebut Agonis GABA.

Ketika benzodiazepin (nitrazepam) menduduki reseptor GABA, maka terjadi peningkatan frekuensi pembukaan kanal ion Cl⁻.

Ion Cl⁻ secara bebas masuk ke dalam sel dalam jumlah banyak dan menyebabkan muatan di dalam sel lebih negatif.

Kondisi ini disebut Hiperpolarisasi.

Hiperpolarisasi menyebabkan penghambatan penerusan potensial aksi sehingga timbulah efek penurunan sistem saraf pusat.

Berikut ini ilustrasi mekanisme kerja dumolid dan obat golongan benzodiazepin lainnya.






Semoga melalui kasus yang dialami para artis tanah air menjadi pelajaran buat kita.

Bijaksana dan waspadalah menggunakan dan mendistribusikan obat-obat psikotropik dan narkotika.

Khususnya tenaga kefarmasian yang bekerja di apotek.

Referensi.

Comments