Skip to main content

Cara Pemilihan Antibiotik Yang Tepat

Cara Pemilihan Antibiotik Yang Tepat


Pemilihan antibiotik yang tepat idealnya adalah spesifik membunuh bakteri patogen tanpa merusak hospes.

Antibiotik diindikasikan hanya untuk pengobatan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri.


Beberapa hal yang harus diketahui pada pemilihan antibiotik adalah:

  • Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri.
  • Tanda gejala spesifik atau simptomnya.
  • Karakteristik bakteri patogen yang menginfeksi (bakteri gram positif kah atau negatif, Bagaimana bentuknya, cocus, basil dsb).
  • Bagaimana profil farmakokinetik farmakodinamik antibiotik, efek sampingnya, dan interaksi obatnya ?
  • Jenis antibiotiknya apa ? spektrum luas, atau sempit ? bakteriostatik atau bakteriasid ?
  • Bagaimana aturan pakai dan berapa lama penggunaan obatnya.
  • Bagaimana cara menguji kepekaan bakteri terhadap antibiotik.
  • Cost Effective dan keamanannya.


Pemilihan antibiotik yang tepat menjadi kunci utama dalam pencegahan terjadinya resistensi mikroorganisme terhadap antibiotik.

Resistensi adalah kemampuan bakteri untuk menetralisir dan melemahkan daya kerja antibiotik dengan cara :

  • Merusak antibiotik dengan enzim yang diproduksi oleh bakteri.
  • Mengubah reseptor titik tangkap antibiotik di dalam sel bakteri
  • Mengubah fisiko-kimiawi target sasaran antibiotik di dalam sel bakteri.
  • Ketidakmampuan antibiotik menembus dinding sel bakteri karena terjadi perubahan sifat dinding sel bakteri.
  • Antibiotik masuk ke dalam sel bakteri, namun segera dikeluarkan kembali dari dalam sel melalui mekanisme transport aktif ke luar sel. 



Satuan resistensi dinyatakan dalam satuan KHM (kadar hambat minimum) atau Minimum Inhibitory Concentration (MIC), yaitu kadar terendah antibiotik (૫g/ml) yang mampu menghambat tumbuh dan berkembangnya bakteri


Antibiotik merupakan senyawa kimia yang mampu membunuh atau menghambat berbagai spesies bakteri.


Klasifikasi Antibiotik berdasarkan spektrum kerjanya dibagi menjadi 2 jenis, yaitu

  • Antibiotik berspektrum luas adalah antibiotik yang mampu membunuh bakteri gram positif dan gram negatif.

  • Antibiotik berspektrum sempit adalah antibiotik yang hanya mampu membunuh salah satu jenis tersebut.

Jika ada pasien menderita suatu penyakit infeksi bakteri yang belum diketahui jenis bakterinya, maka antibiotik mana yang dipilih ? spektrum luas atau spektrum sempit ?

Ada pendapat yang mengatakan bahwa antibiotik berspektrum luas menjadi pilihan karena semua bakteri di dalam tubuh, baik itu gram positif maupun negatif, akan dibunuh tanpa harus mengetahui jenis bakterinya sehingga kemungkinan besar pasien akan cepat sembuh (lebih simple).


Ada juga yang berpendapat, pemilihan antibiotik berdasarkan empiris atau pengalaman.

Misalnya,

Berdasarkan pengalaman dari 5 pasien infeksi saluran kemih yang ditreatment dengan trimetoprim + sulfametoksazol menunjukkan hasil yang baik.

Maka kalau ada pasien infeksi saluran kemih yang baru, cukup langsung ditreatmen dengan trimetoprim + sulfametoksazol tanpa harus mengetahui karakteristik bakterinya.


Namun ada juga pendapat lain yang bertentangan dengan pendapat di atas, yaitu “Do no harm”.

Artinya pemilihan antibiotik berspektrum luas bukan hanya membunuh bakteri penyebab penyakit (patogen), tetapi berpotensi pada infeksi sekunder dan tidak tertarget pada bakteri patogen. Akibatnya sangat berisiko pada resistensi bakteri.

Inilah yang menjadi efek buruk penggunaan antibiotik berspektrum luas. Yang pasti efek sampingnya lebih luas juga.


Pada area tubuh manusia terdapat bakteri non-patogen, artinya bakteri yang tidak menyebabkan penyakit.

Bakteri ini dikenal dengan nama flora normal. Gambar dibawah ini menjelaskan lokasi dan kadar flora normal di dalam tubuh manusia (organisme per mililiter)


Cara Pemilihan Antibiotik Yang Tepat



Flora normal dapat juga menyebabkan infeksi ketika salah satu jenis flora normal tersebut mengalami perubahan, misalnya pertumbuhannya yang terjadi secara berlebihan (overgrowth) atau kerusakan pada kulit.

Infeksi akibat proses ini disebut dengan infeksi endogen.

Sedangkan infeksi eksogen adalah sumbernya dari luar.

Misalnya dari kontak dengan manusia yang terinfeksi bakteri, atau lingkungan, dan hewan. Kejadian yang paling sering adalah infeksi nosokomial.

Infeksi adalah istilah yang menjelaskan adanya bakteri patogen dalam tubuh.


Jadi konsep pemilihan antibiotik yang tepat adalah antibiotik yang spesifik membunuh bakteri patogen tanpa mempengaruhi bakteri non patogen (flora normal) sehingga dapat menyembuhkan penyakit dan meminimalisir efek buruk dari antibiotik tersebut, termasuklah infeksi sekunder.




Peraturan Menteri Kesehatan RI No 2406/Menkes/Per/XII/2011 menjelaskan salah satu prinsip penggunaan antibiotik yang bijak adalah Penggunaan antibiotik dengan spektrum sempit dan lini pertama


Silahkan download disini (PERMENKES RI NO 2406/MENKES/PER/XII/2011)

Berikut ini merupakan gambaran dari spektrum antibiotik.



Cara Pemilihan Antibiotik Yang Tepat
(Sumber: https://www.hopkinsmedicine.org/amp/guidelines/Antibiotic_guidelines.pdf Halaman 33).



Ada 4 cara pemilihan antibiotik yang tepat yaitu


  • Pertimbangan pasien dan pemilihan antibiotik
  • Menegakkan diagnosa klinis meliputi tanda-tanda atau gejala, diagnosa imaging, pemeriksaan non-mikrobiologi.
  • Identifikasi bakteri patogen melalui pengujian mikrobiologi
  • Uji sensitivitas bakteri terhadap berbagai jenis antibiotik
  • Pertimbangan spesifisitas obat dan pasien.


Pertimbangan pemilihan antibiotik meliputi:


Pertimbangan Pasien meliputi:

  • Lokasi anatomi infeksi
  • Riwayat penggunaan antibiotik
  • Riwayat alergi obat
  • Fungsi ginjal dan hati
  • Penggunaan obat yang bersamaan
  • Masa kehamilan atau menyusui
  • Kepatuhan pasien


Diagnosis, Tanda dan gejala spesifik adanya Infeksi Bakteri.


Tanda-tanda umum:
Demam merupakan respon tubuh terhadap adanya toksin bakteri, tetapi demam belum tentu karena adanya infeksi bakteri.

Infeksi dapat juga disertai dengan peradangan. Ditandai dengan rasa nyeri atau tidak enak disekitar area infeksi


Diagnosa Imaging untuk membantu mengidentifikasi lokasi anatomi infeksi pada jaringan tubuh pasien.

Diagnosa ini meliputi Radiograpi (sinar-X), CT scan, MRI (Magnetic Resonance Imaging), dan Labeled leukocyte scans.


Pengujian Non-mikrobiologi meliputi WBC (white blood Cell Count), Laju sedimentasi eritrosit (Erythrocyte Sedimentation Rate, ESR), C-reactive protein (CRP) dan kadar procalcitoin
.


Cara Pemilihan Antibiotik Yang Tepat


WBC, merupakan komponen sistem imun tubuh, yang jumlahnya meningkat apabila ada infeksi bakteri patogen.

Neutrofil, makrofag, sel dendrit merupakan sistem imun non spesifik yang merespon dengan cepat adanya infeksi patogen sehingga nilai WBC meningkat.


ESR dan CRP merupakan penanda (marker) nonspesifik adanya inflamasi, yang nilainya meningkat sebagai respon terhadap inflamasi akibat adanya infeksi.


Procalcitoin merupakan suatu prohormon calcitoin, yang secara cepat kadarnya meningkat dalam serum sebagai respon adanya infeksi bakteri. Kadar procalcitoin dalam serum berguna untuk meniai efek terapi antibiotik.




Pengujian Mikrobiologi


Pada pengujian mikrobiologi, sampel yang diambil berupa sputum, darah atau urin, kemudian langsung dilakukan uji pewarnaan gram untuk menentukan karakteristik organisme patogen.

Dari hasilnya nanti ketahuan karakteristik bakteri, apakah bakteri tersebut berupa gram positif atau negatif, lalu bentuknya basil atau cocus.


Tahap berikutnya adalah kultur mikrobiologi (memperbanyak mikroba dengan pembiakan pada media kultur) dan uji kepekaan.

Tujuan pengujian ini adalah sebagai dasar pemilihan antibiotik yang tepat.

Pemeriksaan mikrobiologi sangat penting dilakukan sebelum memilih antibiotik.

Sampel (darah, sputum, atau urin) diletakkan pada media kultur yang kondisinya baik untuk perkembangbiakan.

Untuk uji kepekaan dapat menggunakan berbagai jenis antibiotik yang akan kita rekomendasikan.





Uji Sensitivitas bakteri terhadap antibiotik


Minimun Inhibitory Concentration (MIC) merupakan standar uji kepekaan yang memiliki arti konsentrasi terkecil dari antibiotik yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri secara visible setelah 24 jam.


Profil farmakokinetik yang harus diperoleh dari antibiotik yang digunakan dalam pengujian adalah konsentrasi antibiotik yang dicapai dalam serum setelah pemberian dosis standar.

Jika nilai MIC dibawah nilai konsentrasi antibiotik dalam serum maka organisme tersebut peka atau sensitif terhadap antibiotik.

Hal ini menunjukkan antibiotik efektif membunuh bakteri.

Jika nilai MIC diatas nilai konsentrasi antibiotik dalam serum maka organisme tersebut telah resistant.


Uraian singkat Uji metode difusi cakram



Cara Pemilihan Antibiotik Yang Tepat
Gambar diambil dari https://en.wikipedia.org/wiki/Agar_diffusion_test#/media/File:Agar_Diffusion_Method_1.jpg


Media agar yang disebarkan dengan bakteri pada cawan petri (petri dish).

Kemudian tambahkan paper disk variasi antibiotik A, B, dan C.

Bakteri dibiarkan tumbuh berkembang pada media agar dan kemudian diamati.

Diameter Area disekitar antibiotik disk mengindikasikan Letalitas antibiotik terhadap bakteri.

Pada gambar diatas, antibiotik yang paling efektif menghambat bakteri adalah antibiotik disk C karena menghasilkan diameter yang lebih luas dibandingkan B.

Sedangkan antibiotik disk A tidak efektif (resistant) terhadap bakteri.


Referensi:

Comments