Skip to main content

Hal yang harus diketahui tentang Antibiotik

Hal yang harus diketahui tentang Antibiotik


Antibiotik adalah golongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau membunuh bakteri.


Berdasarkan sifatnya (daya hancurnya), antibiotik dibagi menjadi 2 yaitu:

  • Antibiotik yang bersifat bakterisidal, yaitu antibiotik yang membunuh bakteri. Contohnya: golongan sefalosporin, golongan fluorokuinolon, amoksisilin.
  • Antibiotik yang bersifat bakteriostatik, yaitu antibiotik yang bekerja menghambat pertumbuhan atau multiplikasi bakteri. Contohnya: Tetrasiklin, thiamphenicol,


Berdasarkan spektrum kerjanya, antibiotik dibedakan menjadi 2, yaitu:

  • Antibiotik berspektrum sempit, yaitu antibiotik yang efek utamanya hanya pada bakteri gram positif atau hanya pada bakteri gram negatif saja.
    Contohnya Penisilin G dan V hanya efektif melawan bakteri gram positif saja.
  • Antibiotik berspektrum luas, yaitu antibiotik yang efek utamanya pada bakteri gram positif maupun negatif.
    Contoh: golongan sefalosporin, tetrasiklin, amoksisilin, golongan fluorokuinolon


Jadi, antibiotik hanya diindikasikan untuk penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri.

Diluar itu jangan gunakan antibiotik !!!


Biasanya pasien yang terinfeksi bakteri dapat dikenali dari gejala dan data kliniknya, yaitu biasanya pasien demam, ada peradangan atau rasa sakit di area infeksi, dan kadar leukositnya diatas normal.



Penggolongan antibiotik.


Golongan antibiotik yang umum digunakan yaitu:

Beta laktam

  • Aminobenzil penicillins : penisilin G, penisilin V
  • Benzil penisilin : amoksisilin, ampisilin

Tetracyclines

  • Tetrasiklin, doxycyclin, minocyclin

Cephalosporins

  • Ceftriaxon, cefadroxil, cefixime, cefuroxime

Fluorokuinolon

  • Ciprofloxacin, levofloxacin

Lincomycins

  • Clindamycin, lincomycin

Macrolida

  • Azithromycin, clarithromycin, erythromycin

Sulfonamides

  • Sulfametoxasol-trimethoprim

Glycopeptida

  • Vancomycin

Aminoglycosides

  • Gentamycin

Carbapenems

  • Meropenem



      Cara Kerja Antibiotik Menghambat atau Membunuh Bakteri.



      antibiotik


      Mekanisme kerja antibiotik :

      • Menghambat sintesis dinding sel. Contohnya golongan beta laktam (golongan penisilin, sefalosporin).
      • Merusak membran sel bakteri dengan cara membuat membran itu lebih permeable sehingga terjadi kebocoran isi sel bakteri. Contohnya: polimiksin.
      • Menghambat sintesis protein. Contohnya: kloramfenikol, tetrasiklin, makrolida, aminoglikosida.
      • Menghambat sintesis RNA. Contohnya: rifampisin.
      • Menghambat replikasi DNA. Contoh: Quinolon (Fluoroquinolon)
      • Menghambat metabolisme bakteri. Contohnya: trimetoprim, sulfonamida.


      Hampir sebagian besar Antibiotik yang sifatnya bakterisida, bekerja dengan cara menghambat sintesis DNA, sintesis RNA, sintesis dinding sel atau sintesis protein.

      Namun jenis bakteri dan dosis juga menentukan sifat kerja antibiotik tersebut.



      Penghambatan replikasi DNA oleh quinolones


      Antibiotik golongan quinolon bekerja mengikat DNA gyrase (topoisomerase II) and topoisomerase IV (topoIV) sehingga merusak untaian ganda DNA yang mengakibatkan replikasi DNA tidak terjadi. 

      Mekanisme kerja ini menghasilkan kematian sel.

      Kedua  enzim topoisomerase ini sangat dibutuhkan pada proses replikasi DNA.

      Fungsinya merilekskan/ mengurangi tegangan lilitan pada untai DNA saat proses transkripsi dan replikasi sehingga molekul DNA menjadi rileks (tidak menggulung).



      Antibiotik Quinolon


      Penghambatan sintesis RNA oleh  rifampisin


      Kalau tadi antibiotik golongan quinolon menghambat replikasi DNA, sedangkan rifampisin menghambat sintesis RNA dengan cara mengikat  DNA-dependent transcription dalam bentuk ikatan yang stabil. 

      DNA-dependent transcription ini dikode oleh gen  rpoB yang aktif menghasilkan enzim RNA polymerase dimana enzim ini berfungsi mengkatalisis pembentukan RNA dari  gen DNA pada proses transkripsi. 

      Jika DNA-dependent transcription dihambat oleh rifampisin, maka sintesis RNA tidak akan terbentuk. 

      Rifampisin termasuk bakterisida yang membunuh bakteri gram positif namun termasuk bakteriostatik terhadap bakteri gram negatif. 

      Rifampisin merupakan inducer enzim yang kuat untuk cytochrome P-450 yang dapat mengakibatkan turunnya konsentrasi obat-obatan yang dimetabolisme oleh isoenzyme tersebut apabila dalam bentuk kombinasi.

      Efek samping yang sering terjadi adalah warna kemerahan pada air seni dan reaksi alergi.

      Untuk kasus yang parah, khususnya penggunaan kombinasi rifampisin isoniazid dan pirazinamid,  dapat menyebabkan kerusakan organ hati.



      Penghambatan sintesis dinding sel bakteri


      Isi sel bakteri dibungkus oleh lapisan peptidoglikan (PG, atau murein).

      Peptidoglikan adalah suatu matriks polimer (polisakarida), ikatannya cross linked kovalen, yang tersusun dari peptida yang dihubungkan dengan ikatan β-(1,4)-N-acetyl hexosamine.

      Dinding sel ini melindungi bakteri dari pengaruh lingkungan luar sehingga bakteri dapat bertahan hidup.

      Obat golongan beta laktam (penicillins, carbapenems dan cephalosporins) memblok unit cross link peptidoglikan melalui penghambatan reaksi pembentukan ikatan peptide yang dikatalisis oleh transpeptidase.


      Golongan antibiotik ini spesifik bekerja menghambat biosintesis dinding sel yang pada akhirnya menyebabkan sel bakteri lisis.

      Mekanisme ini dikenal dengan penicillin binding proteins (PBP).


      Antibiotik beta laktam

      Penghambatan sintesis protein


      Sintesis protein pada sel bakteri dibentuk di ribosom oleh RNA.

      Pembentukan RNA dimulai dari proses transkripsi pada inti sel, dimana DNA membentuk mRNA.  

      Terdapat 3 tahapan fase pada proses translasi mRNA yaitu inisiasi, elongasi dan terminasi.

      Pada proses ini melibatkan ribosom.

      Organel ribosom tersusun dari 2 subunit ribonukleoprotein, yaitu 50s dan 30s, yang berperan pada fase inisiasi.

      Karena terdapat 2 subunit ribonukleoprotein, maka antibiotik yang bekerja  menghambat sintesis protein juga dibagi menjadi 2 subkelas, yaitu inhibitor 50s dan inhibitor 30s


      Inhibitor 50S ribosom
      bekerja memblok tahap inisiasi translasi protein atau translokasi peptidyl-tRNAs untuk menghambat reaksi peptidyltransferase

      Yang termasuk inhibitor 50s adalah 

      • Macrolide (e.g., erythromycin),
      • Lincosamide (e.g., clindamycin),
      • Streptogramin (e.g., dalfopristin/quinupristin),
      • Amphenicol (e.g., chloramphenicol)
      • Oxazolidinone (e.g., linezolid).


      Sedangkan yang termasuk Inhibitor ribosom 30S adalah tetrasiklin, streptomycin, kanamycin and gentamicin.

      Antibiotik golongan Tetracyclines bekerja dengan cara memblok akses  aminoacyl-tRNAs menuju ribosom.

      Antibiotik makrolida


      Dari antara semua inhibitor ribosom, hanya golongan aminoglikosida yang bersifat bakterisida. 

      Macrolides, streptogramins, spectinomycin, tetracyclines, chloramphenicol and macrolides termasuk bakteriostatik.

      Tetapi  famili dari inhibitor ribosom ini dapat menjadi bakterisida pada spesies bakteri dan pengobatan tertentu.

      Contoh:

      • Kloramfenikol sudah terbukti efektif dapat membunuh kuman S. pneumoniae dan  Neisseria meningitides (bakterisid).
      • Kloramfenikol dan makrolida azitromisin efektif bakterisid pada kuman  Haemophilus influenza.

      Permasalahan umum yang terjadi saat ini pada penggunaan antibiotik adalah Resistensi Antibiotik.

      Resistensi antibiotik adalah suatu keadaan dimana bakteri sudah kebal sama antibiotik.

      Bakteri tersebut mengalami regenerasi membentuk sistem pertahanan yang tidak dapat ditembus oleh antibiotik sehingga kuman menjadi kebal, misalnya melalui pembentukan enzim.


      Staphylococcus adalah bakteri penyebab penyakit (patogen) yang dapat menghasilkan enzim penisilinase yang dapat merusak obat amoksisilin.

      Hal ini berarti bakteri Staphylococcus sudah kebal (resisten) sama amoksisilin.

      Maka setiap penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Staphylococcus tidak akan sembuh dengan amoksisilin.


      Penggunaan antibiotik yang tidak tepat, dosis yang salah, menjadi faktor pemicu terjadinya resistensi.


      Perhatian:
      Semua sirup antibiotik adalah sediaan dry syrup (sirup kering).

      Setelah dicampur dengan air minum, suspensi stabil selama 7 hari dibawah suhu 30⁰C.

      Jika masih ada sisa setelah 7 hari harus dibuang.



      Cara untuk mengurangi resiko terjadinya resistensi Antibiotik


      Cara I: Menggunakan antibiotik yang tepat yang dipilih berdasarkan pemeriksaan bakteriologis.

      Cara memilih antibiotik yang tepat adalah tentukan dahulu jenis kuman bakteri patogennya yang diambil dari specimen pasien (contoh: dahak, darah, urin),

      kemudian pilih antibiotik berdasarkan uji daya hambat.

      Antibiotik yang memiliki diameter daya hambat yang besar berarti mampu membunuh bakteri.


      Cara II: Mengkombinasikan satu atau lebih antibiotik yang dapat mencegah resistensi dan menghasilkan efek yang sinergis untuk hasil terapi yang lebih optimal.

      Contohnya:

      • Kombinasi amoksisilin dengan asam klavulanat (inhibitor enzim beta laktamase).
      • Kotrimoksazol yaitu kombinasi antara trimetoprim dan sulfametoksazol.
      • Kombinasi obat TBC seperti isoniazid, ethambutol, rifampicin.


      Apakah antibiotik memiliki efek samping ?
      Tentu ada.



      Berikut ini adalah efek samping yang sering terjadi dari penggunaan antibiotik:

      • Reaksi alergi. Semua antibiotik berpotensi memiliki efek samping alergi tergantung pada individu.
      • Mual, diare (khususnya antibiotik yang berspektrum luas).
      • Tetrasiklin menyebabkan kerusakan hati, kerusakan pada gigi, menghambat pertumbuhan anak-anak. Oleh sebab itu jangan berikan tetrasiklin pada anak-anak yang sedang masa pertumbuhan.
      • Rifampisin menyebabkan nafsu makan menurun, warna kemerahan pada air seni, gatal-gatal kemerahan pada kulit, hepatotoksik. 



      Mengapa bakteri berspektrum luas cenderung memiliki efek samping diare ?


      Pada saluran cerna tepatnya di usus, ada bakteri yang baik yang perannya membantu menguraikan makanan.

      Bakteri baik ini dikenal dengan nama flora normal yang banyak terdapat di usus.

      Bakteri spektrum luas sifatnya membunuh atau menghambat semua jenis bakteri, baik gram positif maupun gram negatif, termasuklah flora normal di usus.

      Akibatnya peran flora normal dalam menguraikan makanan menjadi terhambat akibatnya diare.




      Apakah antibiotik aman bagi ibu hamil dan menyusui ?


      Tentu tidak semua antibiotik aman bagi ibu hamil dan menyusui.

      Jika antibiotik dapat mempengaruhi perkembangan janin maka tentu saja dikontraindikasikan bagi ibu hamil.

      Berikut ini antibiotik yang aman bagi ibu hamil adalah

      • Amoksisilin
      • Ampicilin
      • Penicilin
      • Clindamycin
      • Erythromycin.

      Semua antibiotik ini aman dikonsumsi selama masa kehamilan.

      Beberapa antibiotik yang berpotensi bahaya bagi janin (fetus) atau bayi (infant) adalah golongan 

      • Quinolones
      • Tetracyclines
      • Sulfonamides.

      Beberapa golongan antibiotik yang harus dihindari selama trimester pertama masa kehamilan adalah Trimethoprim/ Sulfamethoxazole).


      Baca Artikel Selanjutnya  Cara Pemilihan Antibiotik yang Tepat.

      Terimakasih..

      Referensi

        Comments