Skip to main content

Pengobatan Hipertensi

Pengobatan Hipertensi

Pengobatan hipertensi menjadi sorotan yang krusial dikarenakan prevalensi hipertensi tertinggi di dunia.

Insiden hipertensi meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

Umumnya usia > 65 tahun memiliki risiko tertinggi hipertensi.

Apabila tidak ditanggulangi, risiko hipertensi jangka panjang dapat berdampak pada kerusakan organ lainnya  seperti

  • Stroke iskhemik,
  • Hemoragik,
  • Penyakit vaskular seperti penyakit jantung koroner,
  • Hipertrofi ventrikel kiri, dan
  • Gagal ginjal. 
  • Retinopati


Berikut rentang tekanan darah:



Hipertensi



Tekanan darah pada pembuluh darah arteri ada 2 jenis, yaitu sistolik dan diastolik.

Hipertensi




Sistolik adalah tekanan pada pembuluh darah arteri ketika jantung berkontraksi (memompa darah keseluruh jaringan tubuh).

Sedangkan distolik adalah tekanan pada pembuluh darah arteri pada saat jantung relaksasi.



Penyebab Hipertensi


Ada 2 jenis penyebab hipertensi, yaitu 


Hipertensi esensial atau primer

  • Penyebabnya belum diketahui dengan pasti.
  • Diduga karena faktor bertambahnya usia, stress, psikologis, hereditas (keturunan).
  • Prevalensi penderita hipertensi esensial kurang lebih 90%


Hipertensi Sekunder

  • Penyebabnya dapat diketahui antara lain: gangguan pembuluh darah ginjal, hipertiroid, gangguan kelenjar adrenal (hiperaldosteron). 
  • Prevalensi penderita hipertensi sekunder kurang lebih 10%

Karena prevalensi penderita hipertensi esensial tinggi, maka penjelasan pengobatan hipertensi di bawah ini lebih ditujukan ke hipertensi esensial



Berbagai Faktor yang mempengaruhi Tekanan Darah


Tekanan darah merupakan ukuran dari seberapa besar darah menekan dinding pembuluh darah arteri.

Satuannya biasanya dinyatakan dalam mmHg.

Pembuluh darah Arteri adalah pembuluh darah yang membawa darah dipompa dari jantung menuju seluruh jaringan tubuh.


Pada umumnya, tekanan darah sangat dipengaruhi oleh :

  • Aktivitas jantung (curah jantung/ cardiac output),
  • Resistensi / Tahanan pembuluh darah perifer, dipengaruhi oleh elastisitas dan diameter pembuluh darah.

          Tekanan Darah = Curah Jantung x Tahanan Perifer

          Aktivitas Jantung diukur dari cardiac output (curah jantung).

          Cardiac output adalah total volume darah yang dipompa oleh ventrikel per menit.

          Cardiac output dipengaruhi oleh frekuensi denyut jantung (HR) dan stroke volume ( SV, volume sekuncup).

          Normalnya frekuensi denyut jantung berkisar 60 hingga 100 beat per menit (bpm).

          Gangguan aktivitas jantung dapat berupa tachycardia jika aktivitas jantung > 100 bpm) dan bradycardia jika aktivitas jantung < 60 bpm).

          Jika akitivitas jantung berlebihan, maka akan meningkatkan tekanan darah.


          Stroke volume (SV, isi sekuncup) adalah volume darah yang disemprotkan setiap kali ventrikel berkontraksi.

          Jadi, untuk menentukan cardiac output adalah
          Stroke volume x frekuensi denyut jantung

          Misalkan setiap kontraksi, ventrikel memompa 70 ml, dan frekuensi denyut jantungnya = 80 bpm.

          Maka cardiac output = 70 ml x 80 bpm = 5.600 ml (5,6 L) darah yang dipompa setiap menit ke seluruh jaringan tubuh.


          Faktor yang mempengaruhi stroke volume adalah

            • Preload : peregangan otot ventrikel sesaat sebelum kontraksi yang berhubungan dengan volume darah ke jantung yang melalui pembuluh darah vena sehingga apabila preload meningkat maka volume darah yang masuk ke dalam ventrikel sebelum kontraksi (EDV) akan meningkat.

            • Afterload : berhubungan dengan beban tahanan yang dialami ventrikel untuk mengeluarkan/ memompakan sejumlah darah dalam ventrikel. Apabila afterload meningkat, maka beban/ hambatan ventrikel meningkat sehingga volume darah yang dikeluarkan (SV) menurun.

            • Ionotropik (kekuatan kontraksi ventrikel) : apabila ionotropik (kontraksi) meningkat, maka volume darah dalam ventrikel yang dikeluarkan (SV) akan meningkat dan sisa volume darah yang tertinggal dalam ventrikel (ESV) akan menurun. Ionotropik (kontraksi) dapat meningkat akibat aktivasi saraf simpatetik dan ion kalsium.




              Faktor Resiko Hipertensi

              Faktor resiko penyakit kardiovaskular pada pasien hipertensi adalah
              • Riwayat hipertensi / kardiovaskular pada pasien atau keluarga pasien.
              • Kebiasaan merokok
              • Obesitas
              • Kurangnya aktivitas fisik
              • Dislipidemia
              • Diabetes melitus
              • Laju Filtrasi Glomerolus (LFG) < 60 ml/menit


              Konsep Hemodinamik dan Homeostatis Kardiovaskular


              Hemodinamik adalah aliran sirkulasi darah  dalam tubuh.

              Renin-Angiotensinogen-Aldosteron Sistem (RAAS) sangat berperan penting dalam memelihara hemodinamik dan homeostatis kardiovaskular.

              Ketika terjadi penurunan tekanan darah, proses reaksi yang terjadi adalah

                • Baroreseptor aktif → menstimulasi saraf simpatetik melalui stimulasi reseptor beta-1 di jantung dan reseptor alfa-1 di pembuluh darah → aktivitas jantung meningkat dan vasokonstriksi → tekanan darah meningkat.

                • Penurunan tekanan darah menyebabkan aliran darah ke ginjal menurun → baroreseptor aktif → stimulasi saraf simpatetik melalui stimulasi reseptor beta-1 di sel juxtaglomerular ginjal → sekresi renin → produksi angiotensin II dan aldosteron → tekanan darah meningkat.

                  Dibawah ini adalah kondisi yang mengakibatkan sistem RAAS teraktivasi:
                  • Tekanan darah rendah
                  • Stres simpatetik
                  • Volume darah berkurang

                  Jika kondisi di atas kembali normal, maka RAAS kembali inaktif.

                  Aldosteron dan angiotensin II dihasilkan dari aktivitas renin yang disekresi dari sel juxtaglomerular ginjal sebagai respon penurunan aliran darah ke ginjal.

                  Efeknya adalah


                  • Aldosteron → menyebabkan retensi air, Na → volume darah meningkat → curah jantung meningkat
                  • Angiotensin II → vasokonstriksi → resistensi perifer (tahanan di pembuluh darah) meningkat → Tekanan darah meningkat.




                  Konsep  Pengobatan Hipertensi


                  Pendekatan cara untuk menurunkan tekanan darah berdasarkan penyebab patologinya, misalnya:

                  • Mengurangi volume cairan dalam sirkulasi darah
                  • Menurunkan aktivitas jantung (menurunkan aktivitas saraf simpatetik)
                  • Melebarkan pembuluh darah arteri (vasodilatasi).
                  • Pola hidup dan makanan sehat



                  Pengobatan hipertensi secara Farmakologi


                  Pengobatan hipertensi secara farmakologi meliputi:


                  Obat yang bekerja melebarkan pembuluh darah (vasodilator)
                  .

                  • Golongan alfa-1 bloker, contohnya prazosin, terazosin.
                  • Golongan alfa-2 agonis, contohnya clonidin, metildopa.
                  • Golongan Angiotensin converting enzym inhibitors (ACE-i), contohnya captopril, lisinopril, enalapril
                  • Golongan Angiotensin receptor blockers (ARB), contohnya: valsartan, irbesartan, losartan, candesartan. Obat golongan ARB dan ACE-i bekerja pada sistem renin angiotensin aldosteron namun memiliki perbedaan dari segi mekanisme kerjanya dan efek samping.
                  • Obat calcium channel blockers, golongan dihidropiridin  contohnya: amlodipin, felodipin, nicardipin, nifedipin

                  Obat yang menurunkan aktivitas jantung


                  Obat untuk menurunkan jumlah cairan dalam sirkulasi

                  • Golongan diuretik, contohnya: Furosemid, hidroklorthiazid, spironolakton. 


                  Pengaturan Dosis Antihipertensi dapat dilihat pada tabel di bawah ini.


                  Pengobatan Hipertensi


                  Berikut ini tabel Perbandingan Guideline yang menjadi referensi untuk pengobatan hipertensi.
                  Saat ini telah digunakan JNC 8 sebagai referensi.

                  Antihipertensi

                  Pengobatan Hipertensi




                  Pengobatan Hipertensi Non Farmakologi


                  Terapi non farmakologi secara alami untuk pencegahan dan pengobatan hipertensi yaitu gaya hidup sehat, berupa:

                  • Mengurangi berat badan untuk individu yang obesitas atau gemuk
                  • Mengkonsumsi makanan yang kaya akan kalium, rendah kadar lemak jenuh, diet karbohidrat.
                  • Mengurangi asupan garam
                  • Olahraga rutin
                  • Berhenti merokok
                  • Mengurangi konsumsi kafein




                  Pengobatan Hipertensi Pada Ibu Hamil


                  Pengobatan hipertensi pada kehamilan merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan karena tidak semua obat antihipertensi dapat digunakan.

                  Dasar rujukan yang digunakan untuk Pengobatan hipertensi pada ibu hamil adalah


                  Metildopa menjadi pilihan utama (lini I) untuk pengobatan pada kasus hipertensi pada ibu hamil.

                  Clonidin memiliki efek dan keamanan yang sama dengan metildopa.

                  Menurut FDA (Food and Drug Administration), metildopa termasuk kategori B sedangkan clonidin termasuk kategori C.

                  Jika penggunaan monoterapi metildopa kurang efektif menurunkan tekanan darah, maka dapat diganti dengan nifedipin (lini II).

                  Nifedipin tidak menunjukan efek teratogenik namun Data keamanan nifedipin masih kurang.

                  Menurut FDA, nifedipin termasuk kategori C.

                  Penggunaan diuretik pada kasus hipertensi ibu hamil masih kontroversi.

                  Namun diuretik thiazid (hidroklorthiazid) tidak menyebabkan efek teratogenik dan termasuk kategori B

                  Golongan obat ACE-inhibitors dan ARB dikontraindikasikan pada ibu hamil karena menyebabkan fetotoksik. 

                  ACE-inhibitor termasuk kategori C untuk trisemester pertama dari kehamilan, dan kategori D untuk trisemester kedua dan ketiga.



                  Baca selanjutnya tentang interaksi obat antihipertensi.

                  Referensi:

                    Comments