Skip to main content

Farmakologi Obat Adrenergik (Simpatomimetik)

Farmakologi Obat Adrenergik (Simpatomimetik)


Adrenergik (Simpatomimetik) adalah golongan senyawa obat yang menstimulasi kerja saraf simpatetik. 

Sasaran kerja adrenergik adalah adrenoreseptor.

Adrenoreseptor merupakan reseptor bagi neurotransmiter noradrenalin/ norepinefrin yang memperantarai berbagai aktivitas saraf simpatetik seperti:

  • Pelepasan energi (glukosa meningkat)
  • Denyut jantung meningkat
  • Dilatasi saluran pernapasan
  • Midriasis (Dilatasi) pupil mata
  • Vasokonstriksi
  • dan sebagainya

Adrenoreseptor terdiri atas alfa-1, alfa-2, beta-1, beta-2, dan beta-3

Contoh Senyawa adrenergik



Farmakologi Adrenergik (Simpatomimetik)



Perbandingan Aktivitas Farmakologi Obat Agonis Adrenergik (Simpatomimetik).


Farmakologi Adrenergik (Simpatomimetik)
(Sumber: https://www.pharmacology2000.com/Autonomics/Adrenergics1/Adrenergic-1.htm)




Distribusi adrenoreseptor dalam jaringan tubuh



Distribusi Adrenoreseptor


Adrenoreseptor alfa-1 (Gq, Ca²⁺)


Reseptor ini terletak di pupil mata, pembuluh darah arteriol dan vena, spinkter kandung kemih.

Contoh agonis adrenoreseptor adalah fenilefrin, norepinefrin.

Fenilefrin merupakan agonis murni alfa-1.

Pada penggunaan klinis, fenilefrin digunakan untuk mengobati hipotensi dan dekongestan pada hidung.

Untuk sediaan topikal, fenilefrin menyebabkan midriasis. 

Norepinefrin mirip kerjanyaa dengan fenilefrin.

Bedanya kalau norepinefrin mampu menstimulasi reseptor beta-1 di jantung.

Fenilefrin, pseudoefedrin, efedrin merupakan agonis alfa-1.

Vasokonstriksi pembuluh darah perifer di hidung menjadi sasaran dalam aksi sebagai dekongestan nasal.

Golongan obat ini juga dapat untuk treatment hipotensi

Pada pupil terdapat reseptor alfa-1. Jika distimulasi akan menimbulkan efek midriasis (kontraksi otot radial).

Aktivasi reseptor alfa-1 di Pembuluh darah (arteriol dan vena) menyebabkan vasokonstriksi.

Contoh antagonis adrenoreseptor alfa-1: Prazosin, doksazosin, dan terazosin. Golongan ini digunakan sebagai  obat antihipertensi.

Prazosin menghambat reseptor alfa-1 secara selektif tanpa menghambat reseptor alfa-2.




Adrenoreseptor alfa-2 (Gi, Kanal K⁺ terbuka, cAMP menurun)


Berlokasi di presinaptik pada sinaps adrenergik dan tersebar luas di seluruh jaringan tubuh.

Contoh agonis Alfa-2 adalah klonidin, metildopa

Aktivasi reseptor alfa-2 di Medula oblongata menyebabkan penurunan outflow simpatetik.

Jika reseptor alfa-2 pada pre-sinaps distimulasi, akan menurunkan rilis (pelepasan) norepinefrin dari ujung saraf.

Stimulasi reseptor alfa-2 oleh klonidin menyebabkan penurunan outflow simpatetik  dan mengurangi jumlah norepinefrin di sinaps perifer secara signifikan ke sistem kardiovaskular sehingga terjadi hipotensi dan bradikardia. 

Metildopa merupakan suatu pro-drug yang berkhasiat sebagai anti-hipertensi melalui metabolit aktifnya alfa-metilnorepinefrin melalui stimulasi reseptor alfa-2.

Pada dosis besar, senyawa ini dapat menstimulasi reseptor alfa-1  post sinaps vaskuler yang dapat menyebabkan vasokonstriksi.



Antagonis adrenoreseptor alfa-2.
Senyawa obat yang memblok reseptor alfa-2 secara selektif  di pre-sinaps adalah Yohimbin.

Senyawa ini meningkatkan jumlah pelepasan norepinefrin dan meningkatkan outflow neuron simpatetik.

Yohimbin  digunakan untuk mengatasi gangguan disfungsi ereksi pada pria.

Ereksi penis  adalah keadaan dimana penis membesar dan atau menegang.

Ereksi penis pada pria terjadi bila darah mengalir dan memenuhi corpora cavernosa karena berbagai bentuk rangsangan seperti  rangsangan seksual atau tekanan kandung kemih yang penuh.

Ereksi sangat berkaitan dengan aktivitas saraf kolinergik dan adrenergik

Secara normal ereksi berakhir jika rangsangan seksual diakhiri atau terjadi ejakulasi sperma.

Ketidakmampuan penis untuk ereksi secara penuh disebut dengan impotensi.

Efek samping Yohimbin adalah tekanan darah meningkat, palpitasi, insomnia, berkeringat, sakit kepala, menggigil.



Adrenoreseptor Beta-1 (Gs, cAMP dan Ca²⁺ meningkat)


Stimulasi reseptor beta-1 menginduksi aktivitas kerja jantung seperti:

  • Kronotropik positif (frekuensi denyut jantung meningkat), 
  • Ionotropik positif (kontraksi miokardium meningkat), 
  • Dromotropik positif (meningkatkan kecepatan konduksi jantung pada nodus atrioventrikuler) .

Stimulasi reseptor beta-1 di sel juxtaglomerular ginjal menyebabkan pelepasan renin yang berdampak pada peningkatan tekanan darah

Stimulasi reseptor beta-2 menyebabkan relaksasi otot polos bronkus dan meningkatkan glikogenolisis (proses pemecahan glikogen /cadangan energi menjadi glukosa) di otot dan hati.

Stimulasi reseptor beta 3 menginduksi lipolisis (pemecahan lemak) di jaringan adiposa. Efek ini berdampak pada pengontrolan berat badan.

Contoh obat Agonis adrenoreseptor beta-1: dobutamin, isoproterenol.

Dobutamin, merupakan senyawa katekolamin, bekerja menstimulasi reseptor beta-1 dan beta-2 serta pada dosis tinggi, sedikit stimulasi reseptor alfa-1 sehingga memiliki efek positif hemodinamik (aliran darah).

Dobutamin digunakan untuk meningkatkan curah jantung pada kasus gagal jantung kongestif. Efek sampingnya mirip dengan epinefrin.


Isoproterenol merupakan senyawa katekolamin yang bekerja langsung memicu reseptor beta 1 dan 2.

Kerjanya pada kardiovaskular, meningkatkan kontraksi dan frekuensi denyut jantung.

Pada bronkus paru-paru menyebabkan bronkodilatasi karena menstimulasi beta-2
Kerja lainnya terhadap reseptor beta yaitu Meningkatkan kadar gula darah dan lipolisis

Penggunaan terapinya sudah jarang sekali digunakan untuk bronkodilator pada asma.

Biasanya digunakan untuk memacu kerja jantung.


Antagonis adrenoreseptor (Penjelasannya baca di Golongan Beta Bloker)




Adrenoreseptor beta-2 (Gs, cAMP meningkat)


Agonis selektif adrenoreseptor beta-2 terdiri atas

  • Long acting: salmeterol, formoterol
  • Short acting: salbutamol, albuterol, fenoterol, terbutalin

Selengkapnya baca di Bronkodilator.

Stimulasi beta-2 pada otot bronkus menyebabkan bronkodilatasi. Pada uterus menyebabkan relaksasi.

Pada organ hati dan otot menyebabkan peningkatan glikogenolisis di hati yang mengakibatkan hiperglikemia.

Pemblokan reseptor beta-2 akan menurunkan kadar glukosa

Efek samping beta-2 agonis adalah takikardia, tremor, dan hipokalemia namun efek sampingnya berkurang jika diberikan sediaan inhalasi.



Adrenoreseptor beta-3 (Gs)


Terdapat di Jaringan adiposa. Stimulasi reseptor ini meningkatkan lipolisis, untuk mengontrol berat badan




Obat Adrenergik Katekolamin dan Non Katekolamin



Struktur Dasar Katekolamin.

Struktur Dasar Katekolamin.


Katekolamin = Katekol (3,4-dihidroksil benzen) + etilamin (-C₂H₄-NH₂). 

Senyawa turunan katekol  mengandung gugus 3,4-dihidroksibenzen (gugus – OH pada posisi 3 dan 4 pada cincin benzen.

Berikut ini tabel perbedaan katekolamin dan nonkatekolamin

Katekolamin non katekolamin




Obat Adrenergik (Simpatomimetik) Katekolamin


Contohnya seperti epinefrin, norepinefrin, isoproterenol, dobutamin, dopamin.

Senyawa  turunan katekolamin memiliki sifat yang sama, yaitu

  • Obat turunan katekol berpotensi kuat mengaktifkan adrenoreseptor alfa atau beta.
  • Katekolamin dimetabolisme oleh catechol-O-methyltransferase (COMT) pada celah sinaptik dan monoamine oxidase (MAO) di dalam neuron. Selain itu COMT berada pada dinding usus dan MAO terdapat di dalam hati dan dinding usus. Oleh sebab itu, masa kerja senyawa katekolamin sangat singkat bila diberikan secara injeksi dan tidak efektif bila diberikan secara per oral.
  • Senyawa katekolamin memiliki penetrasi yang buruk ke SSP karena bersifat polar

Epinefrin
Mekanisme kerjanya, menstimulasi reseptor beta-1, beta-2, dan alfa-1.

Pada Kardiovaskular.

  • Meningkatkan kontraksi otot jantung, meningkatkan frekuensi denyut jantung. Kebutuhan oksigen otot jantung meningkat.

Pada pernapasan.

  • Menimbulkan efek bronkodilatasi yang kuat melalui stimulasi langsung reseptor beta-2 di otot polos bronkus. Kerja epinefrin ini  sangat membantu semua kondisi bronkokonstriksi akibat reaksi alergi (kerja histamin).

Pada kasus syok anafilaksis,

  • Epinefrin dapat menyelamatkan nyawa.

Hiperglikemia.

  • Epinefrin menyebabkan hiperglikemia melalui stimulasi reseptor beta-2 dan alfa-2 di sel hati.  Stimulasi reseptor beta-2 di hati menyebabkan glikogenolisis dan pelepasan glukagon. 
  • Sedangkan stimulasi reseptor alfa-2 di sel hati menyebabkan penurunan sekresi insulin.

Pada jaringan adiposa meyebabkan Lipolisis.

  • Stimulasi reseptor beta di jaringan lemak akan menghidrolisis triasilgliserol menjadi asam lemak bebas dan gliserol.


Biotransformasi Epinefrin. 

  • Epinefrin sama seperti katekolamin lainnya, dimetabolisme oleh 2 alur enzimatik, yaitu COMT dan MAO. Hasil metabolit akhir dijumpai di dalam urin. 

Penggunaan Klinis:

  • Pengobatan bronkospasme (kondisi gawat seperti asma akut, dan syok anafilaksis).
  • Glaukoma. Larutan epinefrin 2% digunakan topikal untuk mengurangi tekanan dalam bola mata dengan cara mengurangi produksi cairan humor dengan memvasokonstriksi pembuluh darah badan siliaris.
  • Pengobatan syok anafilaksis. Epinefrin merupakan obat pilihan untuk pengobatan reaksi hipersensitivitas tipe I.



Obat Adrenergik (Simpatomimetik) Non-Katekolamin


Yang termasuk non-katekolamin adalah fenilefrin, efedrin, amfetamin, albuterol.

Senyawa kelompok non katekolamin tidak mempunyai gugus hidroksi katekol sehingga masa kerjanya lebih panjang karena tidak dipecah oleh enzim COMT dan MAO.

Fenilefrin merupakan analog epinefrin, memiliki satu gugus OH di posisi 3 dari cincin benzen.

Sedangkan efedrin tidak punya gugus hidroksil pada cincin tersebut.

Oleh sebab itu senyawa ini tahan terhadap MAO akibatnya masa kerjanya lebih lama.

Meningkatnya kelarutan lipid  memungkinkan laju obat ini berpenetrasi ke SSP.


Fenilefrin
Obat adrenergik sintetik yang langsung menstimulasi reseptor alfa-1

Obat ini bukan turunan senyawa katekolamin sehingga tidak dirusak oleh COMT.

Obat ini digunakan secara topikal untuk membran mukosa hidung sebagai dekongestan dan tetes mata untuk efek midriasis.

Efek terhadap jantung secara langsung tidak ada, tetapi memicu refleks bradikardia bila diberikan parental

Referensi:

Comments