Skip to main content

Mekanisme ARB, ACE inhibitor, dan NSAIDs menyebabkan Nefrotoksik

Mekanisme ARB, ACE inhibitor, dan NSAIDs menyebabkan Nefrotoksik


Nefrotoksik Agent merupakan senyawa obat-obat yang dapat menyebabkan gagal ginjal. 



Golongan obat yang menyebabkan Nefrotoksik adalah 

  • Golongan Aminoglycosides (Contohnya: neomycin yang paling nefrotoksik, diikuti gentamycin, amikacin, dan yang paling ringan adalah streptomycin). 
  • ACE inhibitors, 
  • ARBs, 
  • Amphotericin B, 
  • NSAIDs, 
  • Cyclosporine, 
  • Tacrolimus, 
  • Radiographic contrast agents.


Mengapa obat golongan NSAIDs, ARB dan ACE inhibitor termasuk nefrotoksik agent ?

Karena golongan obat ini mengganggu Autoregulasi Hemodinamik aliran plasma ke ginjal.



Autoregulasi Aliran Plasma Ginjal dan Laju Filtrasi Glomerolus (LFG).


Sekitar 20-25% volume darah yang dipompa oleh jantung (disebut dengan curah jantung / cardiac output) diperfusi (dialirkan) ke ginjal.

Jika curah jantung 5.000 ml per menit, maka sekitar 1.200 ml darah per menit dialirkan ke ginjal.

(Sumber: Wilson, L.M. Dalam buku Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Vol 2. Edisi 6. Penerbit: EGC. Hal: 870).


Ginjal memiliki kemampuan mempertahankan aliran darah ke ginjal sehingga LFG relatif konstan.

Peristiwa ini disebut autoregulasi.



Laju Filtrasi glomerolus (LFG) atau bersihan kreatinin (Creatinine Clearance, CrCl).


LFG atau CrCl menggambarkan volume plasma darah yang dibersihkan dari kreatinin melalui filtrasi ginjal di glomerolus per menit.

LFG merupakan parameter pengukuran yang paling baik untuk menilai fungsi ginjal pada proses ekskresi.

Manfaat dari pengukuran LFG adalah


  • Deteksi dini kerusakan ginjal
  • Pemantauan perkembangan penyakit
  • Mengontrol terapi ginjal
  • Mengoptimalkan terapi dengan obat tertentu


Kreatinin adalah suatu produk sampah sisa dari metabolisme otot dan dieliminasi dari tubuh melalui ginjal.

Sehingga data kadar kreatinin dalam darah dibutuhkan untuk menentukan fungsi ginjal melalui perhitungan LFG atau CrCl yang dinyatakan dalam satuan ml / menit.

Menurunnya laju filtrasi glomerolus (LFG / CrCl) mengindikasikan penurunan fungsi ginjal.

Penurunan fungsi ginjal berdampak pada peningkatan kadar kreatinin dalam darah. 

Kreatinin serum orang dewasa normal = 0,7-1,5 mg/dL atau < 1,5 mg/dL.

Apabila nilai kreatinin serum diatas 1,5 mg/dL, menunjukan penurunan fungsi ginjal. 

LFG dipengaruhi oleh

  • Usia,
  • Jenis kelamin, dan
  • Luas permukaan tubuh (BSA).


Rata-rata nilai BSA dewasa = 1,73 m². LFG diukur per 1,73
.

Nilai LFG orang dewasa untuk pria = 130 ml/menit/1,73
.

Sedangkan untuk wanita = 120 ml/menit/1,73
.

Sehingga nilai kisaran rentang normal = 100-130 ml/menit/1,73


Menurut National Kidney Foundation, rentang LFG normal =  90 - 120 mL/min/1,73
.

Nilai LFG usia 80 tahun, rata-rata 50% dari LFG dewasa.

LFG pada masa kehamilan, meningkat 50% pada trisemester pertama dan kembali normal setelah melahirkan.

LFG memmpunyai ritme sirkadian yaitu naik 10% pada sore hari dibandingkan tengah malam.

LFG = 100 – 130 cc/menit, menyatakan sejumlah volume darah disaring (difiltrasi) oleh nefron ginjal di glomerolus.

Produk yang tidak berguna seperti ureum, kreatinin,  air yang berlebih, dan sisa produk sampah lainnya dibuang oleh ginjal.

Kadar kreatinin dalam plasma sangat berguna untuk menilai fungsi glomerolus dan lebih baik dibandingkan kadar plasma ureum.

Kenaikan kadar plasma kreatinin 1-2 mg/dL dari normal menandakan perunuran LFG ± 50%

Untuk menghitung LFG gunakan rumus (1) formula Cockcroft-Gault. 


Mekanisme ARB, ACE inhibitor, dan NSAIDs menyebabkan Nefrotoksik




Dalam perhitungan LFG, dapat juga dengan menentukan bersihan kreatinin seperti rumus (2) di bawah ini.


Mekanisme ARB, ACE inhibitor, dan NSAIDs menyebabkan Nefrotoksik




Untuk bisa menghitung bersihan kreatinin menggunakan rumus (2) diatas, Kita harus menentukan kadar kreatinin dalam darah dan dalam urin.

Namun Pengumpulan urin yang tidak tepat akan menghasilkan bersihan kreatinin yang kurang akurat.

Untuk laki-laki urinnya mengandung 15-20 mg kreatinin/KgBB/hari.

Untuk perempuan urinnya mengandung 10-15 mg kreatinin/KgBB/hari.

Nilai ini akan menurun seiring dengan bertambahnya usia.




Mekanisme Autoregulasi Ginjal


Mekanisme autoregulasi Ginjal sebagai berikut.

Jika terjadi hipotensi sistemik → sistem renin aldosteron angiotensin akan aktif → pelepasan angiotensin II → vasokonstriksi arteriol aferen dan arteriol eferen.

Selain itu, sekresi Norepinefrin yang dirilis dari korteks adrenal (aktivasi saraf simpatetik ginjal) → meningkatkan efek vasokonstriksi dari angiotensin II.

Mekanisme ARB, ACE inhibitor, dan NSAIDs menyebabkan Nefrotoksik



Angiotensin II menstimulasi pelepasan prostaglandin (PGI₂, PGE₂) dari glomerolus yang bertindak sebagai vasodilator.

Sehingga meminimalisir kemungkinan terjadinya iskemik ginjal dalam keadaan hipotensi sistemik. 

Mekanisme ARB, ACE inhibitor, dan NSAIDs menyebabkan Nefrotoksik


Ketika aliran plasma ginjal turun (RBF ↓) → Angiotensin II dan prostaglandin di afferen arteriol meningkat → Angiotensin II di eferen arteriol juga meningkat → sehingga LFG tetap terpelihara.




Mekanisme ARB, ACE inhibitor, dan NSAIDs menyebabkan Nefrotoksik.



Prostaglandin dan angiotensin II merupakan senyawa endogen yang berperan penting dalam regulasi aliran darah ke ginjal.

Mengapa obat golongan NSAIDsARB dan ACE inhibitor termasuk nefrotoksik agent ?

Karena mekanisme kerja golongan obat ini sangat mengganggu autoregulasi aliran plasma ke ginjal sehingga dapat menurunkan LFG.

  • NSAIDs menghambat pembentukan prostaglandin.
  • ACE inhibitor menghambat pembentukan angiotensin II melalui inhibisi angiotensin converting enzyme.
  • ARB memblok reseptor angiotensin II sehingga tidak timbul aktivitas angiotensin II.

Obat yang termasuk dalam nefrotoksik agent sangat berpotensi menyebabkan gagal ginjal akut.

Oleh sebab itu hindari kombinasi atau penggunaan bersamaan NSAIDs dengan ARBs atau ACE inhibitor karena sangat nefrotoksik.

Sumber:

Comments